May 18, 2014

Kehilangan

Kehilangan itu... Sesuatu yang sangat aku hindari, yang sangat aku harapkan takkan terjadi padaku. Kehilangan kamu itu... Entahlah, aku sulit menjabarkannya. kehilangan kamu sudah membuat otakku berhenti berpikir. Pertanyaanku hanya ada satu. KENAPA? Kenapa kamu pergi saat aku benar-benar mengharapkan kamu? Ah, aku tahu. Harusnya aku tak sepanik ini saat kehilangan kamu. Aku bukan siapa-siapa. Dan mungkin suatu hari nanti kamu juga akan lupa siapa aku. perubahan adalah hal yang pasti terjadi dan selalu ada hikmah atas semua perubahan yang menyakitkan. Mungkin ini cara tuhan agar aku tak jatuh hati kepada kamu, karena kamu... Memang bukan untukku

Mar 17, 2014

MEANDIKEN : a novel project written by Ayu Indira Dewayani

lagi pengen beli buku, tapi masih bingung buku apa yang enak buat dibaca?
kalau gitu, kamu harus nyoba baca sebuah novel berjudul MEANDIKEN ini

kenapa harus novel ini? oke, karena yang pertama ini novel karangan saya sendiri (iya, saya  memang narsis) yang kedua, karena novel ini punya cerita yang ringan khas anak remaja, cocok untuk kamu-kamu yang berjiwa muda (jadi itu artinya kalau kamu nggak suka cerita di buku ini, berarti kamu berjiwa tua). ini dia sinopsisnya:

ini cerita tentang tentang 4 sahabat. Mel, si tomboy yang menjabat sebagai ketua majalah dinding. Bian, si cewek feminim yang jadi model di salah satu majalah remaja.ada Dina,si cewek manis anggota OSIS yang ramah tapi klemer-klemer. dan Niken, cewek jenius berkacamata tapi agak-agak lemot kalau diajak ngobrol.
Semuanya tampak indah.  Curhat-curhatan, ketawa-ketawa, jalan- jalan ke mall, pulang sekolah bareng, sampai main ke rumah salah satu dari mereka. Tapi memang hidup ini gak dirancang buat sekedar “have fun” doang. satu persatu masalah akhirnya mulai mengambil peran dalam hidup mereka. Cinta segitiga yang menyeret nama Mel dan Niken, tentang kerja part time-nya Dina, musuh “cabe rawit” nya Bian, sampai tentang Jani, si murid baru songong yang terobsesi banget sama pacarnya Dina. Dan saat itulah  mulai ada kata “saling membohongi” dalam persahabatan mereka yang nyaris tanpa cela sejak pertama kali dimulai. Bisa nggak ya, mereka lewatin itu semua? 

nah, gimana? tertarik? kalau gitu yang sekarang harus kamu lakuin cuma mengarahkan mouse kamu ke arah link ini -> http://nulisbuku.com/books/view_book/5050/meandiken klik link-nya. lalu cepat beli si MEANDIKEN ini untuk menambah koleksi buku-buku di rumah kamu.

 selamat membeli :)

yang nulis MEANDIKEN

Feb 14, 2014

curhat: kuliah

Kali ini gue akan sedikit bercerita tentang hal sensitive yang selalu menjadi pusat kegalauan gue setiap saat. Bukan, bukan soal cinta-cintaan. Tapi soal KULIAH. Ya,menurut gue  kuliah merupakan salah satu titik terpenting dalam hidup. Gue gak mau melewatkannya dengan percuma atau kurang efektif. Gue bercita-cita kuliah di universitas negeri yang, gak perlu beken, tapi kualitasnya bagus.
Sejak duduk di bangku SD, gue bahkan sudah menentukan universitas mana yang gue impikan untuk menggantungkan cita-cita disana. Ada banyak pilihan universitas, mostly ada di kota Bandung. Gue sebutin yang jadi top 2
Pertama, gue memilih Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan jurusan teknik sipil atau teknik arsitektur. Cita-cita gue sejak kecil adalah menjadi arsitek, dengan masuk ITB tentunya cita-cita itu akan semakin dekat. Tapi, mimpi itu terputus sejak orangtua gue bilang kalau arsitek adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan di zaman modern seperti ini dan sangat tidak cocok dengan manusia seperti gue yang bertipe pasif (gue gak ngerti apa yang mereka maksud dengan tipe “pasif” dan gue juga gak ngerti apa hubungannya dengan arsitek) jadilah, mimpi itu perlahan gue tinggalkan. Selain karena arsitektur udah gak memungkinkan, ITB juga dihuni oleh manusia-manusia jenius dengan kemampuan otak yang pasti diatas gue. Dan sebenernya, sampai sekarang orang tua gue gak pernah tahu kalau gue sebenernya memang bener-bener pengen masuk ITB, bukan cuma bercanda.
Kedua, gue akhirnya menjatuhkan pilihan pada Universitas Padjajaran (UNPAD) dengan pilihan jurusan hukum atau ekonomi. Ini bisa dibilang banting setir banget. dari arsitektur dan sipil yang berkiblat ke ilmu pasti, gue menggantinya dengan hukum dan ekonomi yang lebih berkiblat ke ilmu sosial. Gue suka IPA, tapi belakangan gue menyadari kalau IPS ternyata seru juga untuk dipelajari. Gue memilih hukum atau ekonomi, karena kedua bidang itu lapangan kerjanya luas. Karena tujuan gue, dan bahkan setiap orang untuk kuliah itu adalah untuk mendapat pekerjaan. Semakin banyak lapangan kerja, semakin terbuka lebar kesempatan gue untuk bisa kerja. Awalnya orangtua gue mendukung niatan gue masuk UNPAD. Dan setelah gue sangat mantap mau masuk UNPAD, orang tua gue tiba-tiba melarang dengan alasan biaya kuliah dan biaya hidupnya yang mahal. Kampret memang, kenapa gak bilang dari awal kalau gak bisa? Tapi, gue akhirnya mengerti maksud mereka. mereka orang tua gue, gue sayang mereka sampai mati dan tujuan utama gue dapet tempat kuliah yang bagus adalah pengen mereka bisa bangga.
Dan ditengah keputus asaan gagal kuliah di UNPAD, bokap gue membuat sebuah tantangan. Kalau gue bisa lulus SNMPTN dan bisa melawan phobia lebay gue terhadap hewan bernama anjing, bokap menjanjikan gue kuliah di UNPAD. Soal biaya, biar beliau yang memikirkan gimana caranya. Waw, semangat gue langsung terbit lagi. Gue percaya bokap gue gak akan ingkar janji. Gue menyanggupi tantangannya.
Sejak saat itu, hari-hari gue dipenuhi dengan perjuangan masuk UNPAD dan sampai hari ini masih berjalan. Tapi kalau boleh jujur, dari lubuk hati yang terdalam, gue masih mengharapkan cita-cita kecil gue untuk dapet gelar sarjana dari arsitektur ITB dan bekerja sebagai arsitek (ya, gue memang labil) ya, bahasa jayusnya sih: hati kecilku masih mengharapkanmu, tapi orangtuaku tak setuju.
Dan, berhubung ini udah mau maghrib dan gue harus ngerjain peer. Jadi  gue harus menyudahi curhatan ini. Terimakasih sudah mau mendengar cerita gue tentang kuliah. Dan semoga di tahun 2015 nanti gue bisa lulus UN dan SNMPTN. Aminn!!

Salam SNMPTN 2015
Dira (calon peserta SNMPTN)


cerpen: orang ke 3 (part.2)

Gue punya 2 cewek sekarang. Raisa dan Maurin. Gue bener-bener nikmatin saat-saat gue bareng Maurin. Maurin sama sekali gak ngebosenin, gue nyaman ada di deket dia. Di waktu yang bersamaan, gue mulai jauh dari Raisa. Di sekolah, gue selalu menghindar dari dia. Semua SMS atau BBM nya gak ada yang gue bales. Semua teleponnya berakhir dengan tombol reject. dan gak tahu untuk keberapa kalinya nyokap gue bilang kalau Raisa datang ke rumah, disaat gue lagi gak ada. Ya, karena setiap Raisa dateng ke rumah, gue lagi jalan sama Maurin.
Dan kedekatan gue dan Maurin mulai bisa terbaca sama Ryan, sahabat gue.
“bro, lo mau sampai kapan kayak gini terus?” tanya Ryan, saat gue dan dia baru aja selesai latihan basket.
“kayak gini gimana?” gue mengerutkan kening.
“gak usah pura-pura gak ngerti gitu lo. Gue tahu kalau antara lo sama Maurin, anak Harapan 2 yang pernah kita wawancarain itu ada sesuatu yang ‘lebih’. Kasih tahu gue, udah sejauh apa hubungan kalian” kata Ryan tegas. Ini anak tahu aja kalau gue punya rahasia. Punya bakat jadi mind reader kayaknya.
“lo tahu dari mana?”
“lo jawab dulu pertanyaan gue!”
“gue udah jadian sama Maurin”
Ryan menggosok-gosokkan telapak tangannya ke wajah seperti orang frustasi. “ceritnya sekarang lo udah jadi playboy? Suka mainin cewek? terus Raisa mau lo kemanain?”
“Raisa..” gue terdiam. “ gue udah gak bisa sama dia. Gue jenuh sama Raisa, Yan. Udah 3 tahun gue ngejalanin yang gitu-gitu aja sama dia”
“lo itu muka doang yang bagus, tapi hati lo nggak. Gue bisa ngerti kalau lo udah bosen sama Raisa. Yang gak gue ngerti itu kenapa lo malah jadian sama cewek lain? Kalau lo udah gak suka sama dia, lo putusin, bukan duain”
“gue gak tega mutusin Raisa”
“sok-sokan gak tega mutusin, tapi lo selingkuh dibelakangannya. Sekarang lo malah nyakitin dia lebih sakit daripada lo mutusin dia” kata Ryan, serius. Gue mengakui kalau apa yang Ryan bilang sepenuhnya bener. “gue kenal banget Raisa, dia cewek yang baiknya kebangetan, gak pernah nyakitin orang lain. sekarang lo malah tega nyakitin dia”
“cepat atau lambat dia pasti bakal tahu juga yang sebenernya. Kalau lo masih punya hati, lo harus secepatnya ngomong jujur sama dia.”
*
Gue sekarang berada dalam posisi yang kejepit. Gue masih belum bisa bilang putus ke Raisa, sedangkan Maurin sekarang mulai menunjukkan sisi menyebalkannya. Setiap menit selalu SMS, dan kalau sekali aja gak dibales dia pasti bakal ngambek. Kemana-mana selalu harus gue yang nganter, kalau gue gak bisa dia pasti ngambek. Dikit dikit minta putus. Maurin ternyata manja, egois, dan nyebelin. Gue baru kenal karakter aslinya sekarang.
“sayang, anterin aku jalan-jalan ya. aku bête di rumah sendirian” kata Maurin, manja.
“gak bisa, aku banyak tugas buat besok”
“kamu kok gitu, sih? Gak pernah ada waktu buat aku!!” nah, dia mulai ngambek lagi.
“kemarin-kemarin aku selalu ada waktu buat kamu, kamu mau kemanapun aku anterin. Tapi kalau sekarang aku beneran gak bisa, aku harus ngerjain tugas. Maaf, ya”
“kamu memang selalu gitu, gak pernah ngerti aku. Kamu nyebelin!! Aku mau putus!!
Arrgghh.. gue capek ngadepin si drama queen ini.
*
Sebelum pulang ke rumah, gue mampir ke toko buku dulu. Ada buku fisika yang harus gue beli, sekalian juga buat refreshing setelah acara berantem sama Maurin tadi yang bikin kepala gue pusing.
Di kasir, mata gue tertuju ke seseorang yang berjalan ke luar toko buku. Seorang cewek dengan dress pendek bunga-bunga yang sedang kerepotan membawa setumpukan barang. Gue perhatiin lebih deket, cewek itu ternyata Raisa. Gue langsung menghampirinya.
“Raisa?”
“eh, Bima. Kok bisa ada disini?” jawab Raisa sambil mencoba memperbaiki posisi barang-barang yang hampir jatuh dari genggamannya.
“sini aku yang bawa” gue memindahkan beberapa barang dari tangan Raisa ke tangan gue sehingga sekarang bebannya terbagi dua. “ini semua buat apa?” gue melihat isi plastik yang berisi kertas lipat, lem, dan hiasan warna-warni.
“buat anak-anak panti. Jadi hari minggu nanti aku sama temen-temen yang lain mau bikin acara bakti sosial gitu ke panti. Biar acaranya lebih seru, aku mau bikin mainan-mainan gitu buat mereka” Raisa memang seneng banget ikutan kegiatan-kegiatan sosial kayak gini. Gue gak tahu terbuat dari apa hatinya sampai dia bisa jadi sebaik ini.
“kenapa kamu gak bilang sama aku? Biasanya kalau ada acara kayak gini kamu selalu minta aku bantuin”
Raisa menunduk sebentar. “aku kira kamu sekarang kamu lagi sibuk-sibuknya, lagi gak ada waktu buat urusan yang kayak gini. Aku gak mau ganggu kamu, gak mau bikin kamu repot”
“kalau buat kamu, aku selalu ada waktu. Aku bantuin, ya?” gue dan Raisa berjalan ke parkiran.
*
Gue gak jadi pulang ke rumah buat ngerjain tugas. Gue lebih milih ke rumah Raisa buat bantuin dia bikin mainan-mainan origami buat anak-anak panti. Ini buat membayar semua waktu yang Raisa lewatin sendiri tanpa gue. Sekarang gue pengen di deket dia, nemenin dia, dan lakuin apa yang gue bisa buat bantuin dia.
“si Meli udah kangen sama kamu, loh. Kamu sekarang jarang kesini sih” Raisa tersenyum sambil mengelus bulu kucing Persia abu-abu yang tidur di sebelahnya itu.
“si Meli atau kamunya yang kangen?” gue melirik jahil.
“dua-duanya, sih” Raisa tersipu malu. “aku sering nyariin kamu, tapi kamu gak pernah ada. Tiap aku dateng ke rumah kamu, pasti kamu lagi gak ada. Jadinya tiap kesana aku curhat-curhatan sama mama kamu, deh” Raisa deket banget sama nyokap gue. Mungkin karena selama ini nyokap gak punya anak cewek, dia sering bilang kalau dia pengen banget punya anak cewek kayak Raisa.
“maafin aku, ya. aku sibuk sendiri”
“gak papa. Aku ngerti kok, kalau sekarang kamu lagi banyak kegiatan lain. kita kan pacaran, harus saling pengertian” jawab Raisa. “oh, iya. Muka kamu tadi stress banget keliatannya. Lagi banyak pikiran, ya? kalau ada masalah kamu cerita aja sama aku”
Gue menatap Raisa yang lagi membuat kelinci dari kertas lipat. Ryan bener. Gue memang gak punya hati. Kenapa gue bisa tega bohongin Raisa? Kenapa gue malah lebih milih Maurin? Saat gue dalam posisi sulit kayak gini, cuma Raisa yang ada buat gue.
“Bim.. Bima.. kamu kenapa? Kok ngeliatin aku kayak gitu?” suara Raisa membuyarkan lamunan gue.
Gue gak menjawab pertanyaannya dan langsung mencium keningnya. Raisa keliatannya sedikit heran dengan sama sikap gue ini.
“serius, kamu kenapa sih? Gak kayak biasanya”
“nggak. Lagi kangen aja sama kamu, sayang” gue membelai rambutnya yang halus. Rasanya semua rasa jenuh dan bosen gue sama Raisa udah lenyap gak tahu kemana. Satu yang gue tahu, gue sayang banget sama dia.
“aku juga kangen” Raisa melingkarkan tangannya ke bahu gue. Gue menarik nafas dalam-dalam. Mungkin gak lama lagi, Raisa gak akan pernah mau peluk gue kayak sekarang. Setelah Raisa tahu ada Maurin diantara hubungan kita, semuanya pasti bakal berubah. Dan gue, belum siap untuk itu.
“aku takut kehilangan kamu” sekarang gue yang melingkarkan tangan ke pinggangnya.
 “kehilangan aku? Memangnya aku mau kemana? Aku disini aja, gak kemana-mana” Raisa malah tertawa kecil. “I love you, Bima”
“I love you more, Raisa”
“eh, handphone kamu bunyi, tuh” Raisa melepaskan pelukannya dan menunjuk handphone gue di atas meja.
Gue mangambil handphone. Ada SMS, dari Maurin. Isinya masih tentang keluhannya tentang gue dan diakhiri dengan kata-kata khasnya, ‘aku mau putus!’
Gue langsung membalas SMS itu dengan cepat.
mau putus? Oke, sekarang kita putus, ya.’
*
Maurin dan gue udah resmi putus. Bukan, bukan lewat SMS itu. Rasanya gak gentle banget mutusin cewek lewat SMS. Jadi gue ketemuan sama Maurin dan jelasin semuanya, termasuk jelasin kalau sebenernya sebelum jadian sama dia, gue udah punya cewek. Maurin keliiatannya marah dan patah hati banget. Tapi kali ini gue mau berusaha buat jujur, walaupun resikonya gue bakal dibenci Maurin.
Sekarang tugas gue Cuma satu.  Jangan sampai Raisa tahu kalau gue pernah punya pacar selain dia, disaat gue masih jadi pacarnya dia. Kok jadi ribet gini, ya?
Raisa memperhatikan gue yang lagi sibuk menyusun artikel tentang liputan lomba paduan suara di SMA Harapan 2. Gue sedikit bingung karena ada beberapa data yang kurang lengkap. “kenapa? Mukanya kok bingung banget?”
“iya, ini datanya ada yang kurang lengkap. Gimana ya?”
“gini aja, aku telepon temen aku yang ada di harapan 2. Dia kebetulan salah satu panitia buat lomba itu. Kamu bisa tanya-tanya lagi soal lomba”
“temen kamu di  Harapan 2? Siapa?” perasaan gue mulai gak enak.
“namanya Maurin, dia jadi sering jadi panitia gitu buat acara-acara di Harapan 2”
Gue langsung shock. “Ma..Mau.. Maurin?di.. dia temen kamu?”
“iya, dia sahabat aku dari kecil. Kamu kenal juga sama dia?”
Kenapa Maurin bisa jadi temennya Raisa? Kenapa diantara ribuan murid SMA Harapan 2, Raisa harus milih Maurin? Mati gue.
“aku.. aku gak kenal sama dia, sayang. Cuma pernah denger namanya aja. Kamu juga gak usah telepon dia.  Aku nanti nanya.. nanya Ryan aja, iya Ryan. Dia kan yang kemarin liputan, dia yang harusnya tanggung jawab” gue salah tingkah.
“oh, ya udah deh”
*
Malam ini gue dateng ke rumahnya Raisa. Gue mau ngomong apa yang seharusnya gue omongin dari dulu. Setelah gue pikir lagi, walaupun gue udah putus sama Maurin, Raisa tetep perlu tahu soal ini. Gue tahu kalau ini namanya cari mati banget. Toh, gue dan Maurin udah putus juga, Raisa gak tahu pun gak akan ada masalah. Tapi rasanya gak fair banget kalau Raisa gak tahu soal ini. Gak adil rasanya kalau Raisa selalu menganggap gue pangerannya yang jujur dan setia, padahal di kenyataan gue gak sebaik itu.
Gue siap kalau Raisa minta putus.
Gue memencet bel rumahnya, dan gak lama Raisa membukakan pintu dengan.. dengan mata yang sembap dan linangan airmata yang masih terlihat jelas. Ini pasti ada yang gak beres. “Bima, ayo masuk”
“sayang, kamu kenapa?” tanya gue khawatir. Tapi Raisa tetap diam tanpa kata. “Raisa sayang, kamu kenapa? Bilang sama aku. Aku gak bisa liat kamu nangis kayak gitu terus”
Raisa menarik nafas panjang, seperti mengumpulkan kekuatan untuk bicara. “aku udah tahu semuanya, Bim. Semuanya tentang kamu aku udah tahu”
“tentang apa?”
Raisa mulai menangis lagi. “tentang kamu sama Maurin, sahabat aku. Aku udah tahu ada apa diantara kalian. Kamu sekarang jawab yang jujur ya, jangan bohongin aku lagi. Kamu beneran selingkuh sama Maurin, kan?”
Shit! kenapa Raisa harus tahu duluan sebelum gue kasih tahu? Dia pasti tahu dari Maurin. “iya, iya aku sama Maurin memang pernah.. pacaran”
“dari awal aku memang udah curiga kalau pacarnya Maurin itu kamu. Tadi siang aku ketemu dia, tadinya aku mau nolongin kamu dengan nanya-nanya tentang perlombaan paduan suara ke dia. Tapi jadinya Maurin malah curhat sama aku. Dia bilang kalau dia patah hati berat karena baru putus sama pacarnya yang namanya Bima, dari Harapan 1. Yang aku tahu, Bima di harapan 1, ya cuma kamu. Dan setelah lihat foto yang Maurin tunjukin, itu bener foto kamu” terang Raisa sambil sesekali menyeka air matanya.
“aku tahu aku salah. Aku bener-bener minta maaf”
“aku tahu kalau kamu lagi bosen sama aku, aku bisa rasain. Tapi aku masih bisa terima, aku bisa terima kalau kamu mau menjauh dari aku, aku terima kalau kamu selalu gak ada waktu buat aku, aku terima kalau kamu cuek. Tapi kalau ini..” Raisa gak sanggup berkata-kata lagi. Air matanya mulai mengalir deras.
Gue menghampiri Raisa yang duduk di samping gue, lalu berlutut di hadapannya. Menggenggam tangannya dan melihat betapa banyak air mata yang dia jatuhkan malam ini.
“aku sakit, Bima” kata Raisa, lirih.
“aku bener-bener ngerasa bersalah, Sa. Aku minta maaf. Tapi aku gak serius sama Maurin, itu cuma karena aku bosen sama kamu. Percaya, aku sayang banget sama kamu”
“kalau kamu sayang sama aku, kamu gak bakal nyakitin aku kayak gini” kata Raisa, pelan. “dan Maurin itu sahabat aku. Gimana aku bisa terus sama kamu, sedangkan disana dia lagi nangis-nangis karena kehilangan kamu” gue gak pernah liat Raisa sesedih ini, dan dalam keadaan sesedih ini Raisa masih bisa mikirin perasaan orang lain.
“tolong, Sa. Aku takut kehilangan kamu”
Raisa menggeleng. “kamu gak takut kehilangan aku. Karena kamu bisa ngelakuin hal besar yang bisa bikin aku ninggalin kamu. Selingkuh.”
“tapi, sayang..”
“tolong jangan panggil aku sayang lagi, Bim. Itu bikin aku tambah sakit”
Malam ini, gue pastikan hubungan gue dan Raisa bakal berakhir.
*
Ini udah sebulan gue dan Raisa putus.  Kehilangan Raisa bener-bener bikin hidup gue berubah. Gak ada lagi acara nganter dia beli buku dongeng ke toko buku, nganterin dia ke dokter hewan, bantuin bikin origami, gak lagi yang nemenin gue bikin artikel, gak ada yang gue tungguin latihan cheers setiap pualng sekolah, dan gak ada yang ngisi hati gue lagi.
Hari ini tepat tanggal 25 april. Gue dan Raisa harusnya ngerayain 3rd anniversary. Sayangnya sekarang udah gak ada kata ‘kita’ lagi, yang ada cuma gue dan dia. Terpisah.
Biasanya setiap anniv, gue dan Raisa selalu datang ke SMP kita dulu. Setelah semua anak SMP udah pulang, gue dan Raisa duduk didepan ruang kelas 2-1, meniup lilin diatas cupcake dan bikin wish buat hubungan kita kedepannya.
Tahun ini gue bakal melakukan hal yang sama, sendirian. Pulang dari latihan basket nanti gue bakal dateng ke SMP gue dulu. Sebuket mawar warna putih, sebuah red velvet cupcake, dan lilin angka 3 udah gue siapin. Peduli amat disana gue dikatain gila karena tiup lilin sendirian. Gue lakuin ini karena gue kangen sama Raisa.
Suasana SMP udah sangat sepi, cuma tinggal penjaga sekolah yang tadi gue mintai izin yang masih bertahan di sekolah. Gue duduk di depan ruang kelas 2-1, menancapkan lilin di atas cupcake, dan mulai melakukan ritual make a wish, kali ini ditambah sedikit pengakuan dosa.
“Raisa sayang, happy 3rd anniversary ya. Walaupun kamu sekarang gak ada disini, aku yakin kamu bisa ngerasain apa yang aku rasain sekarang. Aku kangen banget sama kamu, sama kita yang dulu. Di tanggal 25 april ini, aku janji kalau aku gak akan pernah selingkuh lagi. Aku gak mau kehilangan orang yang aku sayang buat kedua kalinya. Aku harap kamu mau kita kayak dulu lagi” gue tahu kalau kata-kata gue ini udah sangat lebay buat ukuran seorang cowok. Tapi bodo amat, lah. gak ada yang denger juga.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang. “Bima kalau udah janji harus ditepatin, ya. jangan bohong lagi”
“Raisa?” gue terkejut saat melihat Raisa dengan seragam cheers dan jeket warna birunya udah berdiri di belakang gue. Tersenyum, lalu duduk disamping gue.
“kamu kok bisa disini?”
“aku belum pikun, Bim. Aku masih inget kalau kita selalu ngerayain anniv kita disini. sekarang kan tanggal 25 april, tepat kita anniv yang ke 3”
“maksud aku kamu dateng kesini buat..”
Raisa langsung memotong kata-kata gue. “buat makan red velvetnya sama mau pastiin kamu gak salah beli bunga lagi kayak tahun-tahun sebelumnya”
“tenang aja. Kali ini pasti bener. Bunganya mawar, bukan sedap malam, bukan kenanga, atau apapun itu” dari jawaban gue itu gue bisa melihat Raisa senang mendengarnya. Dia menciumi wangi bunga mawar itu dengan caranya yang manis. Gue cuma menatapnya sambil tersenyum.
“kamu udah ngasih aku bunga, ngasih cake. Sekarang kamu mau minta hadiah apa dari aku?”
“aku, cuma mau minta kepercayaan kamu. Aku mau kamu percaya lagi sama aku, percaya kalau aku bisa jadi Bima yang dulu. Bima pacar kamu yang selalu sayang sama kamu dan gak akan pernah nyakitin kamu”
“I love you, Sa”
“I love you too, Bim”  Raisa tersenyum sambil melingkarkan tangannya ke bahu gue. “aku udah maafin kamu, kok. Tapi kamu jangan gitu lagi, ya”
Gue melingkarkan tangan gue ke pinggangnya. “makasih, ya. aku sayang kamu”
“jadi sekarang, Raisa jadi punyanya Bima lagi?” tanya Raisa sambil tersipu malu.
“that’s right, my Raisa” gue mencium keningnya.
Selesai.


cerpen: orang ke 3 (part.1)

orang ke 3


“sayang, si Meli kayaknya lagi sakit, deh. Dari kemarin dia diem terus”
“oh..”
“kata bang Rizal aku harus cepet-cepet bawa dia ke dokter hewan. Kayaknya besok aku mau kesana, kamu yang nganter, ya?”
“oh..”
“kok, oh sih? Mau nganter gak?”
“oh, iya maksudnya. Mau”
Raisa melanjutkan ceritanya tentang si Meli, kucing Persia peliharaannya dengan antusias. Gue cuma  mendengarkannya dengan malas sambil mengagguk-angguk seperlunya. Ngedate yang sangat sangat membosankan.
Gue sendiri gak ngerti, apa yang membuat Raisa jadi sangat membosankan di mata gue akhir-akhir ini. Disaat semua murid cowok di sekolah mendamba-dambakan posisi gue saat ini, duduk di hadapan Raisa sambil memandangi wajah cantiknya dan mendengar suara merdunya bercerita, gue justru merasa pengen cepet-cepet pulang dan mengakhiri ngedate gue sama Raisa.
Raisa cewek gue. Gue dan dia udah satu sekolah sejak SD sampai SMA. Raisa cantik, pintar, kreatif, ramah sama semua orang, menyenangkan, lucu, dan.. gue jatuh cinta sama dia.
Di dalam ruang kelas 2-1 di SMP kita dulu, gue, dengan nyali anak SMP memberanikan diri untuk nembak Raisa. Diluar dugaan, Raisa nerima gue jadi cowoknya, dan hal ini sekaligus mematahkan hati temen-temen gue yang naksir Raisa juga. Hubungan sejak kelas 2 SMP itu berlangsung sampai sekarang. Kalau dihitung-hitung, udah hampir 3 tahun kita pacaran. Wajar, gak, kalau gue mulai bosen?
*
Hari ini gue dan Ryan dapet tugas dari majalah sekolah buat ngeliput acara pensi yang diadain SMA Harapan 2. Sebagai wartawan sekolah, gue dan Ryan yang bertugas buat dateng langsung ke lapangan buat ngeliput setiap acara.
Dengan tugas dari majalah sekolah ini, otomatis gue harus batalin janji gue sama Raisa buat nganter dia dan si Meli ke dokter hewan. Sebelum gue berangkat buat liputan, gue menyempatkan diri buat ketemu Raisa yang lagi latihan cheers di lapangan.
Gue memanggil namanya dari pinggir lapangan. Dan begitu menyadarinya, dia langsung menghentikan latihannya dan menghampiri gue dengan senyum manis khasnya. Senyum yang dulu selalu membuat gue tergila-gila sama dia. Dulu.
“kenapa? Udah mau pulang, ya?”
“nggak, bukan mau pulang. Hari ini aku sama Ryan ada tugas liputan ke Harapan 2, disana lagi ada pensi. Jadi aku gak bisa pulang bareng kamu, nganter si Meli juga gak bisa. Maaf, ya”
 “gak papa. Aku bisa pulang sendiri, kok. Nanti ke dokter hewannya dianterin bang Rizal atau bang Rengga aja. Liputan itu penting loh, kamu harus cepet-cepet kesana” jawab Raisa sambil tersenyum walau terlihat sedikit kecewa. Dia memang selalu kayak gini. Perhatian dan gak egois.
“makasih, ya. Aku berangkat sekarang. Kamu hati-hati pulangnya, kalau udah nyampe rumah langsung kabarin aku” kata gue sambil mengelus rambutnya.
“iya, kamu juga hati-hati di jalan”
Raisa ngelanjutin latihan cheers, gue dan Ryan langsung berangkat ke SMA Harapan 2.
*
SMA Harapan 2 masih satu grup sama sekolah gue, SMA Harapan 1. Sekolah gue dan SMA Harapan 2 selalu menjaga keakraban dan kekompakan semua muridnya dengan cara mewajibkan sekolah gue untuk meliput berbagai acara di SMA Harapan 2, begitu juga sebaliknya. Dengan begitu, komunikasi antar murid masih bisa terjaga.
Gue dan Ryan baru aja nyampe di SMA Harapan 2. Masih siang, tapi acara pensi udah mulai rame. Beberapa band udah mulai mengisi panggung.
“gue paling seneng kalau dapet tugas liputan ke Harapan 2. Murid ceweknya cakep-cakep. Apalagi sekarang lagi ada event kayak gini, yang bening-bening pasti makin banyak. Gue harus ajakin kenalan” kata Ryan, sahabat gue sambil mengedarkan pandangan ke arah kerumunan cewek-cewek. Dasar jomblo abadi, liat cewek bening dikit langsung cari kesempatan.
“Yan, cewek mulu lo urusin! Kita sekarang harus ketemu sama ketua panitianya, nih. Gue pengen cepet-cepet liputan. Biar cepet selesai, bisa langsung pulang”
“alah, Bim. Lo palingan juga pengen cepet pulang supaya bisa ketemu sama Raisa. Sama aje!” sanggah Ryan, gak terima banget gue bilangin.
Setelah ngambil beberapa gambar lewat kamera, gue dan Ryan langsung nyari ketua panitia buat nanya-nanya tentang acara ini. Ketua panitia pensi ini namanya Maurin. Gue sendiri belum ketemu orangnya, tapi kemarin gue udah buat janji lewat telepon sama ‘Maurin’ ini buat wawancara.
Gua dan Ryan mencoba bertanya ke salah satu panitia yang lagi nganggur.
“sorry, gue Bima dari Harapan 1” gue menunjukan name tag wartawan sekolah yang menggantung di leher gue. “gue udah janjian sama yang namanya Maurin, ketua panitia pensi ini buat wawancara. Orangnya yang mana, ya?”
“oh, Maurin. Sebentar ya, gue panggilin” panitia itu lalu memanggil Maurin dengan sedikit berteriak. “Maurin..!! ada yang nyariin lo”
Gue terkesima saat melihat siapa yang menoleh. Seorang cewek cantik. Oh, bukan cantik, tapi cantik banget! senyumnya lembut, rambutnya hitam panjang, kulitnya putih mulus. Gue Cuma bisa terdiam memandangi pemandangan indah ini, dan begitu juga Ryan.
“buset!! Ini sih namanya bidadari. Gue gak nyangka  murid di Harapan 2 ada yang seindah ini. Asli, cantik banget” kata Ryan, hiperbola.
Maurin, yang cantik banget itu menghampiri gue dan Ryan sambil tersenyum. Oh, jantung gue langsung berdetak hiperaktif. “dari Harapan 1, ya? Kenalin, gue Maurin, ketua panitia pensi ini” Maurin mengulurkan tangan.
“Ryandi, panggil aja Ryan” Ryan langsung berjabat tangan dengan semangat’45
“Bima..” gue gantian mengenalkan diri. “bisa mulai wawancaranya sekarang?”
“bisa, kok. Kita duduk di tenda panitia aja, ya. Biar lebih enak wawancaranya”
Proses wawancara berlangsung lancar. Maurin menjawab semua pertanyaan gue dan Ryan seputar pensi dengan jelas dan lengkap. Dari jawaban-jawabannya, gue yakin kalau Maurin  ini murid yang pinter. Udah cantik, pinter juga lagi.
Setelah wawancara selesai, gue dan Ryan langsung pamit pulang ke Maurin dan beberapa panitia yang ada disana. Ryan yang pengen ke toilet langsung ngacir duluan ke toilet, ninggalin gue yang masih jalan dibelakangnya.
“Bima, tunggu!” panggil seseorang dari belakang. Gue langsung menoleh, dan ternyata Maurin yang manggil gue.
“ada apa lagi, Rin?”
“ehm.. ini gue mau ngasih nomor handphone gue” Maurin memberikan secarik kertas warna pink yang bertuliskan deretan angka.
“ini buat..?” gue mengerutkan kening.
“ya ini, ini buat.. buat.. kalau aja ada yang kurang informasinya, terus lo mau nanya gue lagi, lo bisa hubungin gue” Maurin keliatan salah tingkah.
“ehm.. oke. Makasih buat nomornya, nanti gue.. gue SMSin nomor gue hehe..” gue jadi ikutan salah tingkah.
*
Dari acara pensi itu, hubungan gue dan dan Maurin berlanjut. Sejak pertama gue SMSin nomor gue ke dia, kita hampir tiap hari teleponan dan SMSan untuk sekedar nanya ‘udah makan belum?’ atau ngobrolin hal-hal kecil yang gak penting. Gue bener-bener nyaman sama Maurin. Dia cewek yang manis, pinter, tapi seru. Tapi karena Maurin, gue mulai ngelupain satu hal. Raisa.
“Bim, kamu nanti bisa nganter aku toko buku, gak?” tanya Raisa.
“maaf ya, Sa. Aku gak bisa. Nanti aku ada latihan basket, sekalian mau ngelatih anak-anak kelas sepuluh juga” jawab gue, acuh.
Gue bohong. Gue gak ada latihan basket hari ini. Tapi hari ini gue ada janji jalan sama Maurin. Ya, sama Maurin.
Gue nganterin Maurin ke toko buku langganannya. Gue sedikit kaget, selera baca Maurin ternyata sama persis sama Raisa.
“lo suka buku dongeng princess-princessan kayak gini?” tanya gue sambil memperhatikan buku-buku yang Maurin beli.
“iya, emangnya kenapa? Kayak anak kecil banget, ya?” Maurin balik bertanya.
Gue membalasnya dengan senyum. “gak papa. Lucu aja” mendengar kata-kata gue, Maurin langsung tersipu malu.
*
Gue mengantar Maurin sampai ke depan rumahnya. Maurin langsung turun dari motor dan mengembalikan helm yang dia pinjam.
“makasih ya, buat hari ini. Lo udah mau nganterin gue”
“sama-sama, seneng bisa jalan sama lo”
“gue masuk ke dalem dulu, ya” Maurin berbalik, membuka selot pintu pagar.
“gue suka sama lo, Rin” kata-kata itu secara reflek terucap dari mulut gue. Entah apa yang bakal terjadi setelah ini.
Maurin dengan pipi yang memerah berbalik ke arah gue. “gue juga suka sama lo, Bim”
“jadi?”
“kita jadian??”

“iya.. kita jadian”

to be continue..

Feb 3, 2014

Heartbeat by Hivi!

video dari Hivi! yang satu ini keren banget. wajib ditonton!
happy watching!!

Jan 14, 2014

cerpen: LDR



 LDR


“Cha, aku lolos SNMPTN! Aku diterima di UGM!!”
Aku cuma bisa menatap matanya lurus-lurus. Binar matanya memancarkan luapan kebahagiaan yang sekarang dia rasakan. Arief, sekarang resmi diterima di UGM. Universitas Gadjah Mada, di Jogja, dan aku di Jakarta. LDR… huh..
Aku diam saja saat Arief semangat bercerita tentang seluk beluk UGM, kelebihan UGM,  semua hal menarik tentang Jogja, dan betapa beruntungnya dia bisa masuk UGM. Bisa masuk Universitas negeri memang impian terbesar Arief sejak masih duduk di bangku SMA. Aku dan Arief sama-sama mendaftar masuk UGM, tapi aku gagal. Arief memang lebih pintar, dan bukan sebuah kejutan besar kalau dia bisa masuk UGM dan masuk dalam ‘10 besar nilai tertinggi’
“aku nggak nyangka, akhirnya aku diterima di UGM! Walaupun impian utama aku buat masuk ITB gak tercapai, tapi aku bersyukur banget bisa masuk UGM. UGM kan bagus juga. Memang aku jodohnya di UGM kali, ya? Hahaha..” kata Arief, antusias. Aku mengangguk pelan dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Bulir-bulir air mata yang sejak tadi kutahan sepertinya akan mulai berhamburan. Dan Arief, sudah bisa melihat ada yang gak beres dariku.
“kamu sedih? Kenapa?”
“aku nggak keterima di UGM, Rief..” kataku sambil menumpahkan air mata yang sejak tadi tertahan. “aku kuliahnya di Jakarta”
Arief tersenyum sambil menyeka air mataku. “gak papa, sayang. Mungkin bukan rezekinya kamu di UGM. Lagian kampus di Jakarta juga masih banyak yang bagus, kok. Jangan cengeng gitu dong, aku gak suka lihatnya”
“bukan soal kuliahnya, tapi kitanya, Rief!! Jakarta – Jogja itu jauh. Berarti kita bakal LDR-an, dong. Pasti nanti jarang ketemu, jarang ngobrol, jadi jauh. Terus… terus… bentar lagi pasti bakal putus. Aku gak mau gitu huhuhu..” jawabku sambil terus menangis. Aku sering mendengar cerita dari teman-teman dan sepupu-sepupuku yang menjalani hubungan LDR atau Long Distance Relationship, dan sebagian besar harus berakhir dengan kata PUTUS. Aku gak mau kalau hubungan aku dan Arief harus berakhir cuma karena jarak 600 kilometer yang memisahkan Jakarta dan Jogja.
Arief langsung tertawa mendengar kata-kataku tadi. Kebiasaan Arief, selalu tertawa saat aku dalam keadaan mellow seperti ini. Merusak suasana banget. “kita gak bakal kayak gitu, Acha sayang” Arief menjawil hidungku, membuat senyumku kembali terbit. “terus apa gunanya Iphone? Buat apa ada telepon, SMS, email, twitter, Skype, kalau bukan buat kita pake komunikasi? Kita bisa ngobrol dan ‘ketemu’ kapanpun kamu mau”
“tapi kan kamu jarang nyalain telepon, jarang online juga”
“nanti aku nyalain telepon terus, online juga diseringin. Aku janji” Arief tersenyum sambil mengacungkan 2 jarinya. Aku menganguk dan membalas senyumnya, tanda kalau aku percaya dia.
*
Bandara Soekarno Hatta…
Aku benci saat hari ini akhirnya harus datang juga. Hari ini, aku bersama keluarganya mengantar kepergian Arief ke Jogja. Perkuliahan baru dimulai minggu depan, tapi Arief bilang, sebagai anak kost dia harus banyak persiapan disana. Jadi hari ini dia harus berangkat. Ya, hari ini. Hari ini hari terakhir aku melihat dia dan senyumnya secara ‘live’, setidaknya sampai 6 bulan kedepan. Oh..
“kamu baik-baik disana, ya. Jangan males mandi, jangan lupa makan, jangan lupa sholat, jangan selingkuh, jangan deket-deketin cewek-cewek Jogja yang cantik-cantik disana, jangan lupa hubungin aku juga, ya” aku memberikan nasihat kecil sebelum dia pergi.
 “iya, kamu juga baik-baik disini, ya. Jangan cengeng, jangan males belajar, jangan selingkuh, jangan mau dideketin sama cowok-cowok Jakarta yang gak lebih ganteng dari aku. Tungguin aku pulang” Arief membalas memberikan nasihat juga.
Arief melangkahkan kakinya meninggalkanku sambil menyiapkan tiketnya. Tapi, sesaat kemudian dia berbalik arah, dan kembali menghampiriku.
“kenapa balik lagi?”
Arief tersenyum kepadaku. “lupa, hari ini belum bilang ‘aku sayang kamu’” oh, Arief selalu tahu cara membuatku ‘meleleh’. Dia selalu ingat perjanjian 3 tahun lalu, sejak hari pertama kami jadian. Perjanjian yang berisi kalau setiap hari Arief wajib mengucapkan kata ‘aku sayang kamu’, minimal 1 kali dalam sehari. Perjanjian yang lucu dan aneh, tapi Arief selalu mengingat itu setiap hari.
Bulir-bulir air mataku mulai berjatuhan lagi. “aku juga sayang kamu” jawabku sambil memeluknya.
Arief ikut memelukku sambil mengelus rambut panjangku. “tuh, baru dibilangin jangan cengeng, sekarang udah nangis lagi”
“biarin” kataku, manja sambil terus memeluknya.
*
Jakarta – Jogja, bulan ke-1
Aku kenal Arief sejak aku dan dia duduk di bangku SMP yang sama. Masuk SMA, kita diterima di SMA negeri yang sama. Sejak masuk SMA, Arief mulai rajin mendekatiku, salah satunya dengan cara membantu mengerjakan tugas-tugasku sebagai pengurus mading. Lalu mulai berani  mengajakku ‘ngedate’, dan akhirnya di tanggal 8 agustus, Arief mengungkapkan semua perasaannya kepadaku, atau bisa dibilang ‘nembak’. Dan sejak hari itu, aku resmi jadi pacarnya.
Aku suka Arief, walaupun sebenarnya gak banyak yang istimewa dari Arief. Arief bukan termasuk golongan populer di sekolah. Arief yang kukenal adalah seorang cowok yang ramah, jahil, lucu, selalu membuatku bisa tertawa, sederhana, dan sejak kecil bercita-cita jadi arsitek. Dia suka menggambar, terutama menggambar desain rumah. Dan sekarang, mimpinya sudah di depan mata. Teknik arsitektur sudah menunggu dia di Jogja sana. Aku harus mengalah sebentar, membiarkan dia mengejar mimpinya dulu disana, dan aku disini.
Oh iya, ini sudah 1 minggu aku dan Arief jadi ‘anggota’ LDR. 1 minggu gak bertemu dia rasanya aneh juga, soalnya dulu saat masih sekolah kami hampir setiap hari bertemu. Jadi aku dan Arief sudah janjian lewat SMS, kalau nanti malam kita akan ber-skype-an. Aku jadi gak sabar menunggu malam hihi…
Malam tiba, aku sudah duduk manis di depan laptopku. Menunggu Arief menyalakan account skypenya. Dan gak lama, icon account skype Arief mulai menyala. Aku langsung memasang senyuman paling manis di wajahku.
“hai, cantik…” sapanya saat wajahnya mulai muncul di layar laptopku. Dia menggunakan polo shirt warna hitam yang biasa kulihat. Mungkin dia baru pulang kuliah.
“hai, baru pulang kuliah, ya? Gimana rasanya kuliah disana?”
“iya, baru pulang. Rasanya capek banget sih, tapi seru. Aku suka kuliah disini. Kalau kamu gimana? Seru gak, jadi anak ekonomi?”
“ya, gitu deh. Kan baru mulai, jadi masih seru-seru aja. Tapi rasanya aneh banget, sekarang gak ada kamu yang nemenin belajar lagi. Jadi males, deh…”
“ah, itu sih bukan masalah males belajarnya. Bilang aja kamu kangen, pengen deket-deket aku lagi. Iya, kan? Hahaha…” Arief malah menggodaku.
“ih, apaan sih? Siapa juga yang kangen?!” aku langsung cemberut.
Di seberang sana, reaksi Arief cuma diam sambil menatapku. Tanpa sepatah kata pun.
“kamu kok diem?”
“kamu bener tadi. Gak ada kamu rasanya jadi beda, aneh banget”
Loh? Kok dia tiba-tiba jadi serius gini, ya?
“kamu nggak kangen aku, ya? Padahal aku kangen kamu banget. Gak tahu kenapa, aku jadi sedih kamu ngomong kayak tadi” raut wajahnya kelihatan sedih. Aduh, apa aku salah ngomong? Apa dia beneran kangen?
“aku tadi bercanda, sayang. Jangan sedih gitu. Aku juga sebenernya kangen banget sama kamu. Makanya aku minta skype-an” kataku, merasa bersalah.
Tapi Arief tiba-tiba tertawa. Padahal suasana lagi serius kayak gini. “tuh, kan? Kamu beneran kangen. Aku udah duga, kamu pasti kangen banget sama aku yang ganteng ini. Pake gak ngaku segala lagi”
“hih.. jadi kamu tadi cuma ngerjain aku aja, gitu? gak lucu!!” aku jadi kesal sendiri. Arief memang jahil banget,.
“ciee ngambek. Senyum dong, jangan bête gitu”
“…”
“ya udah, gak papa. Kamu cemberut juga masih keliatan cantik” lalu Arief menatapku lagi. “Aku sayang kamu, Cha”
*
Jakarta – Jogja, bulan ke-3…
Satu bulan pertama, hubungan LDR aku dan Arief masih manis, rasanya gak ada jarak yang memisahkan kita. Tapi di bulan-bulan berikutnya Arief mulai terasa jauh. Jangankan nelpon dan SMS, nyalain telepon aja jarang. Online lewat Twitter atau Skype juga jarang. Somehow, aku mulai merasa kehilangan dia…
Dan setelah seminggu menghilang tanpa kabar, Arief akhirnya muncul juga.
“halo” sapanya dari ujung telepon sana.
“halo!!” jawabku ketus.
“kenapa, sih? lagi bête, ya? Galak banget jawabnya”
“kamu yang kenapa?!! Kemana aja? Kenapa baru nelpon sekarang? Kenapa gak pernah online? Kenapa ngilang gitu aja? Aku bingung gimana nyariin kamu. Aku kira kamu kenapa-kenapa” kataku cepat, langsung meluapkan semua kekesalan dan kecemasan yang tertahan sejak seminggu yang lalu.
“udah marahnya?” tanya Arief, tenang. Aku diam, gak menjawab. “kalau gitu sekarang cerita sekali lagi, pelan-pelan, kamu kenapa?”
“aku... aku…” mataku mulai berkaca-kaca. “aku kangen... pengen kamu pulang”
“sama, aku juga kangen. Kamu sa…”
“aku kangen, Rief!! Aku ini cewek, lebih pake perasaan. Kamu kan cowok, nggak bakalan ngerti. Aku kepikiran kamu terus huhuhu..” tangisku mulai pecah.
Cukup lama Arief diam, beberapa menit kemudian baru mulai bicara lagi. “kamu coba keluar sekarang, lihat bintang malam ini”
“ngapain lihat bintang? Kayak di sinetron aja. Bintang kan tiap hari juga ada”
“gimana sih? Diajakin romantis dikit malah gak mau” Arief melengos. “keluar dulu sebentar, nanti aku jelasin. Aku juga lagi diluar, lagi lihatin bintang”
Aku akhirnya beranjak ke balkon kamar untuk melihat bintang di langit malam ini. Biasa aja. “udah diluar nih, udah lihat bintang juga. Terus ngapain lagi?”
“kamu tahu, gak? Hampir setiap malam aku lihatin bintang kayak gini..”
“kenapa?”
“karena, menurut aku, bintang itu kamu. Tanpa kamu, langit aku gak ada bintangnya” ini terdengar persis seperti dialog-dialog di sinetron. Tapi aku yakin kali ini Arief mengatakannya pakai hati. Aku tetap diam, sambil mendengarkan.
“udah 3 bulan kita gak ketemu, ya. Aku kangen disisirin rambut sama kamu lagi, kangen dipakein hand sanitizer sama kamu setiap selesai ngegambar, kangen dimarahin kamu tiap aku lupa makan, kangen lihat kamu ngambek tiap aku lupa ngecharge handphone, dan yang pasti aku kangen lihat senyum kamu. Aku setiap hari kangen semua itu, karena aku sayang kamu, selalu”
Air mataku masih berlinang. Arief bahkan kangen sama hal-hal kecil yang mulai aku lupakan. Sekarang aku sadar kalau  kadar ‘kangen’ aku dan Arief ternyata sama besarnya.
“maaf ya, seminggu ini aku nggak bisa ngabarin kamu. Tugas kuliah sekarang lagi banyak-banyaknya. Handphone gak aktif karena lupa di charge, kan sekarang gak ada kamu lagi  yang ngingetin. Nanti kalau tugasnya udah selesai semua, kita skype-an lagi”
“iya, nanti skype-an lagi, ya” aku mulai tersenyum. Tenang rasanya setelah dengar semua penjelasan dari Arief tadi.
“bintangnya lagi banyak, pasti kamu sekarang lagi cantik-cantiknya, ya? Yah, sayang banget sekarang lagi ngak skype-an. Gak bisa lihat kamu cantiknya gimana”
“gombal ih, kamu!” aku tersipu malu dengan gombalan sederhananya itu.
*
Akhir-akhir ini aku lagi banyak masalah di kampus. Tugas lagi banyak-banyaknya, belum lagi aku belum bisa beradaptasi sama pergaulan teman-teman di kampus yang beda jauh sama teman-teman di SMA dulu. Kalau sudah begini, aku jadi kangen teman-teman SMA, termasuk sama Arief juga.
Rasanya pengin banget cerita banyak sama Arief tentang masalah kampus. Walaupun aku sudah sering curhat ke teman-teman lain, tapi rasanya belum tenang kalau belum cerita ke Arief. Tapi disaat aku lagi butuh-butuhnya banget, Arief malah menghilang lagi.  Telepon dariku selalu gagal tersambung. Semua pesan-pesanku lewat social media juga gak pernah dia balas. Karena itu akhir-akhir ini aku jadi sering menangis semalaman. Selain masalah kampus masalah Arief yang gak pernah ada kabar juga menambah beban pikiranku..
Aku mulai berpikir, percuma juga punya pacar tapi gak pernah saling ketemu. Apa gunanya punya pacar kalau saat dibutuhin dia malah gak ada? Ya aku tahu, disana Arief sibuk kuliah, tapi kalau kita putus bukannya bakal lebih baik? Arief bisa serius kuliah tanpa aku ganggu, dan aku gak perlu khawatir atau nangis semalaman karena memikirkan Arief terus. Tapi, bilang kata PUTUS masih terlalu berat untukku.
Aku masih bergelut dengan tugas kuliahku yang setumpuk, saat handphone yang kusimpan dia atas meja berdering. Tertulis nama Arief di layarnya. Aku mengangkatnya malas-malasan.
“halo”
“halo, sayang. Lagi ngapain?”
“lagi sibuk. Tumben kamu nelpon, aku kira udah lupa sama aku!!” jawabku ketus.
“kamu kenapa lagi, sih? Lagi PMS, ya?”
“kalau tiap ngomong sama kamu rasanya kayak PMS terus, tahu gak?! Bikin emosi, jadi pengen marah-marah terus!!!”
“nyalain skype sekarang, ya. Kita ngomong langsung, biar jelas ceritanya” aku langsung menyalakan account skype-ku, dan gak lama wajah tampan Arief sudah mucul di layar laptop. Sedangkan wajahku masih cemberut.
“jadi ada masalah apa sama kampus? Kenapa juga pengen putus?” tanya Arief.
“kamu tahu dari mana?”
“dari tweet-tweet kamu. Kamu kan sekarang rajin banget ngetweet galau gitu”
“tumben banget online twitter. Katanya lagi sibuk ngerjain tugas?”
“ya udah, itu gak penting. Sekarang ceritain semuanya, aku siap denger”
“aku lagi pusing banget, temen-temen di kampus beda banget sama temen-temen di SMA. Mereka kayaknya gak suka sama aku, kayaknya ngerendahin aku banget. Aku gak suka sifat mereka yang sombong-sombong itu. Belum lagi tugas kuliah lagi banyak-banyaknya. Gak ada kamu yang bantuin aku. Kamu malah ngilang, aku hubungin gak bisa. Aku kan butuh kamu” 
“jadi karena itu pengen putus?” tanya Arief lagi, aku mengangguk pelan. “kamu harus belajar buat ngadapin semua masalah kamu secara dewasa, jangan kayak anak kecil terus. Kamu harus lebih kuat, kamu terlalu lemah jadi cewek!”
Aku rasa kata-kata Arief kali ini agak kasar, walaupun ada benarnya juga. Tapi.. yang aku butuh sekarang cuma dia, ada disini. “iya, aku lemah banget.. makanya aku butuh kamu..” kataku pelan. Suaraku melemah, dan aku mulai menangis, lagi. Tapi tangisan kali ini lebih panjang.
Saat aku menangis, Arief cuma diam sambil menatapku dari Jogja sana. Sampai akhirnya dia mulai bicara. “aku selalu takut nyakitin hati kamu dan aku sebenernya gak pernah tega lihat kamu nangis. Tapi semenjak LDRan,  aku jadi sering nyakitin hati kamu dan bikin kamu nangis. Tolong, jangan bikin aku merasa bersalah terus kayak gini”
“kita berjuang sama-sama, ya? Kamu berjuang nyelsain kuliah disana, aku juga berjuang nyelsain kuliah disini. 3 bulan lagi aku pulang, selama itu kamu pasti kuat ngadapin masalah kamu sendiri. Semangat ya, aku sayang kamu”
“aku juga sayang kamu..” kataku sambil mengelap air mata.
*
Jakarta, bulan ke-6…
Akhirnya hari ini datang juga. Setelah melewati berbagai macam berantem-baikkan 6 bulan LDR-an, Arief akhirnya pulang juga ke Jakarta. Pesawat Arief baru akan landing di bandara tengah malam nanti. Arief melarang aku ikut menjemput, karena waktunya terlalu malam dan besoknya aku masih harus ke kampus.
Jadi, Arief sudah berjanji untuk menjemputku dari kampus siang ini.  Ini pertemuan pertama kita setelah 6 bulan cuma bekomunikasi lewat telepon atau skype.
Ini sudah lewat dari 30 menit dari waktu yang sudah kita sepakati, tapi belum ada tanda-tanda dia sudah tiba di kampus. Apa dia lupa? Aghh.. Arief ini…
“halo, kamu dimana? Ini udah telat 30 menit!! Kamu lupa mau jemput aku, ya?” kataku lewat sambungan telepon.
“nggak lupa, sayang. Tadi ada urusan penting sebentar, ini lagi mau jalan. Tutup dulu teleponnya, ya. Kalau kamu nelpon terus aku gak bisa nyetir”
“ya udah, aku tunggu 30 menit lagi. Kalau kamu masih belum dateng juga, aku pulang sendiri aja!”
Telepon terputus.
*
Telat 30 menit kedua sudah terlewati. Ini berarti sudah 1 jam Arief ngaret. Aku putuskan untuk pulang sendiri naik kendaraan umum. Ini berarti, hari pertama kita bertemu lagi akan dihabiskan dengan berantem, lagi.
Di dalam angkutan umum, aku mencoba menelpon Arief lagi untuk bilang kalau rencana ngedate kita resmi batal. Lama gak ada jawaban, sampai akhirnya telepon diangkat juga.
“halo” terdengar suara perempuan di seberang sana. Loh? Kok suara cewek?
“halo, ini siapa ya?” tanyaku ragu-ragu.
“ini tante, maminya Arief. Acha, kan?”  Apa? maminya Arief nelpon? Aku makin bingung.
“iya, ini Acha, tante. Ariefnya ada?”
“iya itu, Cha. Arief tadi baru aja kecelakaan, tabrakan. Tante sekarang lagi ada di rumah sakit. Nunggu hasil pemeriksaannya Arief”
Astaga, Arief kecelakaan!! Rasanya seluruh tubuhku langsung lemas. Aku bahkan hampir menjatuhkan handphone yang kupegang. “Ar..Arief kecelakaan, tante? Sekarang ada di rumah sakit mana?” tanyaku, panik.
“di RS. Medica. Kalau bisa Acha cepet kesini, temenin tante. Soalnya tante sendirian disini. Papi sama Arina belum bisa kesini”
“iya, tante. Aku kesana sekarang. Makasih”
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menuju rumah sakit.
*
Sepanjang perjalanan ke  rumah sakit, aku isi dengan berdoa. Rasanya semua marah dan kesalku pada Arief sudah lenyap entah kemana. Aku tahu, ini pasti salahku yang menyuruhnya untuk buru-buru. Tuhan, yang kumau sekarang cuma Arief, keselamatan Arief
Aku sudah sampai di tempat dimana Arief dirawat. Dia baru saja dipindahkan  ke ruang inap. Disana sudah ada maminya Arief, dan Arina, adik Arief satu-satunya.  Maminya bilang, kecelakaannya lumayan parah dan Arief mengalami patah tulang di bagian lengan kanan akibat kecelakaan tadi. Aku benar-benar merasa bersalah.
Aku masuk ke dalam ruang inap, disana ada Arief yang berbaring dengan tangan kanan dibalut gips. Menyapaku dengan senyum ramah khasnya.
“hai..”
Tanpa menjawab sapaannya, aku langsung duduk di bangku samping tempat tidurnya dan mengelus lembut wajahnya yang dihiasi memar di bagian kening. “kamu kenapa, Rief?  Kok jadi kayak gini?” tanyaku, panik sambil menangis.
“aku gak papa. Cuma kecelakaan kecil aja tadi. Gak hati-hati, sih” Arief menjawab sambil tetap tersenyum. Gak terlihat kalau tadi dia baru saja terlibat kecelakaan yang hampir merengut nyawanya.
“kecelakaan kecil?! gak papa gimana?! Tangan kamu patah, masih bisa bilang gak papa? Ini jelas ada apa-apa, Arief!!” tangisku tambah keras.
“aku yang sakit, kok kamu yang nangis?” arief malah tertawa.
“kan, aku yang salah. Aku yang nyuruh kamu buru-buru tadi”
“Yang nyetir itu aku, bukan kamu. Jadi yang salah ya, aku. Lagian aku beneran gak papa, kok. Cuma patah tulang dikit. Aku masih hidup, masih bisa ngobrol sama kamu, gini. Apanya yang apa-apa?”
“tapi, kamu juga salah sih” Arief tiba-tiba jadi serius.
“aku minta maaf, ya?” kataku, pelan.
“aku maafin, tapi kamu harus…” Arief tersenyum penuh kemenangan. “cium aku dulu”
Wajahku langsung merah padam. “ih, apaan sih!! Bercanda terus!!”
“siapa yang bercanda? Kamu memang beneran salah. Jengukin pacar yang lagi sakit, bukannya disayang-sayang malah ditangisin”
“iya deh, aku minta maaf ya, sayang” kataku sambil membelai pelan rambutnya.
“eh, ngomong-ngomong kamu kok cantikan sekarang? Lagi punya gebetan baru di kampus, ya?”
“ih, kok nanyanya kayak gitu, sih? Nggak lah!!”
“ya udah, gak usah marah gitu. Bercanda, kok hahaha..” Arief lalu menatap mataku dalam-dalam. “kalau kita berdua udah lulus kuliah, nikah yuk?”
“kita kan masih 18 tahun, jangan ngomongin nikah-nikahan dulu, ah. Belajar dulu yang bener, baru nikah” kataku sambil tersenyum manis.
“tapi tungguin, ya? 3,5 tahun lagi aku baru bisa balik ke Jakarta”
Aku mengangguk pasti. “iya, aku tungguin”
“ngomong-ngomong, gak mau peluk, nih? Gak kangen?”Arief merentangkan tangan kirinya.
“gak ah, lagi gak kangen” candaku.
“aduh, badan aku sakit semua, nih” Arief tiba-tiba mengerang kesakitan. Aku langsung panik. “kayaknya harus kamu peluk, biar gak sakit”
Hhh.. bercanda lagi. Tapi kali ini aku gak mau marah, aku langsung memeluknya. Arief lalu membelai rambutku dengan tangan kirinya, lalu mencium keningku. “aku sayang kamu, Cha”

Selesai.