Nov 4, 2015

cerpen: bukan (FRIENDZONE)

(bukan) FRIENDZONE

By: Aindirad





“gue mau rapat OSIS dulu, sebentar. Lo mau tungguin atau mau pulang duluan?”

Huh! Rapat lagi, rapat lagi!

“gue tungguin aja, deh” jawabku, sambil memaksakan senyum. Sebenarnya aku sudah ingin pulang.

“ya udah, gue ke rapat dulu. Udah ditunggu anak-anak” Audi mengusap rambutku lalu kembali masuk ke ruang rapat OSIS.

Audi itu… apa ya? Kalau dibilang teman, kami terlalu dekat untuk kategori berteman. Tapi kalau pacar, aku ragu. Audi nggak pernah memintaku jadi pacarnya.

Semua berlangsung begitu saja. Awalnya aku sama sekali nggak punya pikiran untuk dekat dengannya. Aku dan Audi punya ‘dunia’ yang sangat berbeda. Audi adalah si ketua OSIS yang maha pintar dan dipuja guru-guru. Sedangkan aku adalah anggota cheerleader yang senang bergaul dan punya banyak teman. Perbedaan itu membuat aku dan dia hampir nggak pernah ngobrol walaupun kami berada di kelas yang sama.

Kebekuan antara kami mulai mencair saat guru biologi membentuk kelompok eksperimen belah katak. Aku dan Audi ada dalam satu kelompok. Aku yang sangat takut pada katak hanya bisa berlindung di balik punggung Audi saat praktikum berlangsung. Sedangkan Audi hanya bisa tertawa sambil menulis urutan organ tubuh katak yang harusnya kami kerjakan bersama.

Sejak saat itu kami mulai sering ngobrol, tentang apapun yang kami suka. Bahkan saat naik ke kelas 2 dan kami ditempatkan di kelas yang berbeda, Audi masih sering datang ke kelasku untuk ngobrol. Kalau nggak sempat bertemu di sekolah, sore harinya dia akan datang ke rumahku untuk sekedar ngobrol di teras sampai langit berubah gelap. Audi juga sering mengajakku ‘kencan’ dengan dalih mentraktir makan atau nonton di blitz. ‘Audi naksir lo’ begitu kata Wina, teman sebangkuku setiap kali aku bercerita tentang Audi. Aku satu pemikiran dengan Wina. Audi selalu memeperlakukanku dengan manis walaupun dia nggak pernah merayuku dengan kata-kata romantis seperti di film-film.

Hingga suatu hari, Audi mengajakku nonton film di blitz seperti biasa. Dia bilang, kali ini aku boleh memilih film apapun yang akan kami tonton. Tentu saja aku langsung memilih film bergenre romance kesukaanku, sekaligus genre film yang paling dibenci Audi.

“nggak papa nih, nonton romance?” tanyaku, agak nggak enak karena Audi yang membayar tiketnya.

Audi tersenyum. “santai aja kali, Ra. Gue kan udah bilang hari ini lo bebas milih mau nonton film apapun”

Akhirnya kami jadi nonton film romance. Aku menonton dengan serius, sampai nggak sempat melihat apakah Audi juga memperhatikan filmnya atau malah tertidur seperti biasanya saat dia nggak suka pada film yang sedang diputar. Tanpa kusadari, Audi menyelipkan rambutku ke telinga lalu mendaratkan kecupan di pipiku. Wajahku langsung memerah. Aku menoleh ke arahnya.

“lo cantik banget” katanya pelan, hampir tanpa suara sambil menggenggam tanganku erat. Konsentrasi nonton filmku buyar seketika. Film yang sedang kutonton kalah romantis dengan Audi!

Setelah itu, jarak antara kami semakin dekat. Tahu-tahu dia sudah menggenggam tanganku, mengelus rambutku, memelukku, bahkan beberapa kali menciumku. Aku sih senang-senang saja. Siapa juga yang nggak senang diperlakukan seperti itu sama cowok seganteng Audi?

Kukira semua ini sudah cukup menunjukkan kalau aku dan Audi sudah pacaran. Tapi kata Wina, cewek tetap harus dapat ‘pengakuan’ dari cowok. Selama belum ada proses ‘nembak’, aku dan Audi masih dalam status berteman.

Aku jadi bingung.

*

Tadi siang Wina bercerita panjang lebar soal perayaan hari jadiannya dengan Gian, pacarnya. Wina dapat hadiah boneka beruang besar dan sebuket bunga mawar warna biru, terus mereka berdua jalan ke coffee shop tempat pertama kali kencan, kayaknya seru banget, deh!

Kalau aku? Gimana bisa rayain hari jadian? Jadian aja nggak!

Aku nggak bisa berhenti memikirkan cerita Wina. Apa aku harus ngomong ke Audi kalau aku juga mau punya tanggal jadian yang bisa dirayain tiap bulan? Hmm… kebetulan Audi sedang duduk di sebelahku sambil berkutat dengan rumus-rumus njelimet di lks. Aku yang memintanya datang ke rumah untuk membantuku mengerjakan PR kimia.

“Di?”

“kenapa?” Audi balik bertanya. Pandangannya masih pada soal-soal kimia.

“kita itu sebenernya pacaran nggak, sih? Kok lo nggak pernah nembak gue”

Audi menatapku lalu tertawa kecil. “emangnya penting ya, pake acara nembak-nembakan gitu?”

“penting, lah! Kalau belum nembak berarti belum pacaran. Kalau belum pacaran, berarti kita ini apa? Nggak jadian tapi pegangan tangan, pelukan, ciuman”

“yang penting lo tahu kalau gue suka sama lo” jawab Audi, tenang. Lalu kembali mengerjakan soal.

“pertanyaannya, kita ini pacaran atau nggak? Bukannya lo suka sama gue atau nggak? Ngerti nggak, sih?!” aku mulai emosi.

Audi berhenti menulis. Dia menatap mataku dalam-dalam, mendekatkan wajahnya padaku lalu mengecup hidungku dengan lembut. “kalau lagi ngambek, lo kelihatan makin manis. Bikin gemes” dia tertawa kecil lalu mengecup hidungku lagi.

Kalau sudah begini, emosiku langsung menguap seketika. Aku nggak bisa benar-benar marah padanya. “nyebelin, ah” rajukku, manja. Audi kembali mengerjakan soal, tapi sebelah tangannya menggenggam tanganku.

*

“gue ada rapat lagi. Mau siapin properti buat pensi. Lo pulang duluan aja, kayaknya bakal lama banget” kata Audi saat aku baru selesai latihan cheerleader.

“iya, nanti gue pulang sama Wina aja. Sekalian mau jalan-jalan dulu” aku memang punya rencana pergi ke toko CD bareng Wina siang ini.

“oke. Hati-hati di jalan, pulangnya juga jangan terlalu sore. Nanti malem gue telepon, ya” Audi mencium puncak kepalaku lalu berjalan meninggalkanku ke ruang rapat OSIS. Setelah Audi sudah jauh dari pandangan, Wina menghampiriku lalu duduk di salah satu kursi dekat tempatku duduk.

“Ra, serius, sebenernya lo sama Audi udah jadian atau belum, sih?” todong Wina.

Aku menggeleng. “belum”

“udah cium-cium kayak gitu, si Audi masih belum nembak juga?!” mata Wina membulat.

“tapi dia bilang, dia suka sama gue”

“ngomong suka aja nggak cukup, Aura” Wina tediam sejenak. “uhm, sorry ya, Ra. Tapi kayaknya lo lagi dimainin sama Audi, deh”

“maksudnya?” aku menegerutkan kening.

“ya, dia nggak mau nembak lo supaya statusnya masih free. Jadi dia bisa deket-deket sama lo, tapi juga bisa deketin cewek lain”

“kayaknya dia nggak gitu, deh”

“aduh, lo jangan terlalu polos gitu, deh!” Wina terlihat khawatir. “Lo tahu Lulu, kan?” Jelas aku tahu. Lulu itu bendahara OSIS yang selalu nempel sama Audi. Galak, norak, sok pintar, dan tergila-gila banget sama Audi. “Lulu bisa leluasa nempel sama Audi karena status Audi masih single. Apa lo nggak cemburu?”

“dia bilang Lulu Cuma temen” jawabku, pelan. Sebenarnya aku juga sering cemburu pada Lulu.

“lo nggak pernah tahu yang sebenernya kan, Ra? Lo sama Audi juga ‘temenan’ kan? Mungkin Audi perlakuin Lulu sama kayak dia perlakuin lo. Kayak pegangan tangan atau cium”

Aku menggeleng. “nggak mungkin kayak gitu, ah”

“kalau nggak kayak gitu, Audi pasti udah ngajak lo jadian”

Dalam hati, aku membenarkan kata-kata Wina.

*

Hujan turun dengan derasnya sejak satu jam yang lalu. Wina sudah pulang duluan sebelum hujan karena Gian menjemputnya menggunakan motor. Jadilah aku menunggu sendirian di depan toko CD ini.

Hujan sepertinya masih lama, angkutan umum juga nggak ada yang lewat. Aku memutuskan untuk menelepon Audi, semoga dia bisa menjemput.

“Di, udah pulang? Jemput gue, ya”

“uhm, sorry. Nggak bisa, Ra. Gue masih harus siapin beberapa properti buat pensi”

“yah, masih lama?”

“kayaknya sih gitu”

“terus giman…”

“udah dulu ya, Ra. Nanti gue telepon lagi”

Tet. Sambungan terputus. Menyebalkan!

Aku mengedarkan pandanganku ke jalanan yang sepi karena hujan terlalu deras. Belum ada satupun angkutan umum yang lewat. Sampai kapan aku menunggu disini?

Di seberang jalan, aku melihat sepasang cewek dan cowok yang menggunakan seragam putih abu-abu sepertiku baru keluar dari toko buku. Si cowok memegang payung, sedangkan si cewek mengamit lengan cowok itu erat. Manisnya. Kalau aja aku dan…

Tunggu, kayaknya aku kenal mereka berdua. Itu kan Audi dan Lulu!

Aku nggak mungkin salah lihat. Aku mengenali wajah mereka walaupun nggak begitu jelas, payung bergambar mickey mouse yang dipegang cowok itu juga sama persis dengan payung yang sengaja kusimpan di mobil Audi supaya dia nggak kehujanan saat turun dari mobil. dan yang makin membuatku yakin, mereka berdua masuk ke mobil CRV yang sangat aku kenali. Mobil Audi.

Audi dan Lulu, jalan berdua, dengan tangan Lulu mengamit lengan Audi. Dasar! Katanya Cuma teman, tapi dipegang gitu mau-mau aja!

Tiba-tiba semua kata-kata Wina tentang Audi menari-nari di pikiranku. Apa Wina benar? Jangan-jangan Audi memang mendekati Lulu sama seperti dia mendekatiku? Mataku jadi terasa panas, air mataku langsung mengalir tanpa bisa kutahan lagi. Kenapa aku nggak sadar kalau dari dulu Audi Cuma main-main? Kenapa aku begitu polos mengira Audi sudah menganggapku pacarnya dan satu-satunya cewek yang dekat dengannya? Bodoh!

Aku berjalan menerobos hujan. Nggak peduli dinginnya, yang penting aku bisa cepat pulang dan menangis sepuasnya.

*

Hari ini, aku demam tinggi. Pasti gara-gara kemarin aku pulang sambil hujan-hujanan. Aku juga menangis semalaman sampai membuat mataku bengkak. Jadi kuputuskan untuk nggak pergi ke sekolah. Mama sudah menelepon wali kelasku dan Wina, jadi sekarang aku tinggal beristirahat seharian di rumah.

Oh, iya. Audi sudah meneleponku belasan kali, tapi nggak kuangkat. Notifikasi sms dan chatnya pun memenuhi handphoneku, tapi semuanya juga kuabaikan. Aku nggak mau berhubungan sama dia lagi. Aku benci Audi!

Aku mendengar pintu kamarku diketuk dari luar.

“masuk aja” jawabku, dengan suara yang serak.

“Ra?” itu suara Audi! Aku berbalik, Audi sudah duduk disamping tempat tidurku.

“ngapain lo kesini?!” tanyaku, ketus.

“mau jenguk. Kata anak-anak, lo sakit” jawab Audi. “Gue bawain martabak keju, nih” Audi tahu aku sangat suka martabak keju. Setiap aku sakit atau nggak enak makan, dia pasti selalu membawakan martabak keju untukku.

“nggak usah sok perhatian, deh! Basi!”

“jutek banget. Lagi PMS ya?”

“kalau lihat lo rasanya kayak PMS tiap hari! Ngeselin!”

“udah ya, Ra. Jangan marah-marah mulu, lo kan lagi sakit. Kalau ada yang lo nggak suka, bilang sama gue” Audi lalu mengelus lenganku.

“nggak usah pegang-pegang gue lagi!” aku menjauhkan lenganku darinya. “gue udah tahu semua!”

Audi mengerutkan kening. “tahu apa?”

“lo juga lagi deket sama Lulu, kan?”

“deket gimana?”

“deket. Kayak gue sama lo. Lo sengaja kan nggak mau jadian sama gue supaya status lo tetep jomblo, terus bisa deketin cewek lain, termasuk Lulu. Iya, kan?” suaraku semakin serak. Aku hampir menangis.

“lo ngomong apaan sih?” Audi terlihat bingung.

“kemarin gue lihat lo jalan sama Lulu. Lulu gandeng tangan lo” aku mulai menangis.

“Ra, lo salah sangka. Gue nggak lagi jalan sama Lulu. Gue…”

“gue nggak mau denger!” aku memalingkan wajah.

“Tapi…”

“udah, lo pulang sana! Gue nggak mau denger apa-apa lagi!” aku menangis makin keras. Aku tahu Audi tak pernah tahan melihatku menangis. Akhirnya dia pergi, membiarkanku menangis sendirian.

*

Aku sudah menceritakan semua yang terjadi padaku dan Audi sambil menangis sepuasnya pada Wina. Wina bilang, obat patah hati cuma ada satu. Cari gebetan baru. Sekalian buat buktiin ke Audi kalau aku juga bisa dekat dengan cowok lain, aku juga bisa tetap senang walaupun tanpa dia.

Jadi aku mulai menghubungi Andra, kapten tim basket sekolah yang sudah mendekatiku sejak pertama kali aku masuk tim cheerleader. Dalam beberapa hari kami langsung dekat. Andra menembakku dan kami akhirnya jadian.

Hari ini, kami juga janjian untuk datang ke pensi sekolah.

Andra tak lepas menggandengku sejak awal masuk gerbang sekolah. Tapi di tengah pertunjukan musik, perhatianku justru hanya tertuju pada Audi yang sedang sibuk kesana kemari mengawasi jalannya pensi.

Sampai, Audi lewat di depanku dan melihatku bergandengan tangan dengan Andra. Audi menghentikan langkahnya, lalu berjalan mendekatiku.

“Ra? Lo kok…” Audi kelihatan kaget sampai kehilangan kata-kata. Dia nggak pernah begitu sebelumnya.

“kenapa memangnya?” tanyaku, angkuh.

“lo jadian sama Andra?!”

“kalau iya, kenapa?”

“kenapa?! Lo masih bisa tanya kenapa?! Lo anggap gue ini apaan? Bisa-bisanya lo jadian sama dia!” Audi mulai emosi. Matanya menatapku tajam. tangannya mencengkram tanganku kuat-kuat.

“kita kan nggak pernah jadian. Gue sama lo Cuma ‘temen’ doang. Kalau lo bisa deket sama cewek lain, gue juga bisa” aku balik menatapnya dengan tatapan menantang.

“udah, lepasin! Jangan kelamaaan pegang-pegang cewek gue!” Andra melepas dengan paksa cengkraman tangan Audi dariku.

“sialan lo!” Audi hampir aja menghajar Andra kalau saja Rengga, salah satu panitia pensi nggak datang untuk melerai.

“sabar, Di! Jaga sikap! lo ketua, penanggung jawab pensi ini. jangan sampai lo yang bikin kacau” Rengga menarik lengan Audi.

“gue kecewa sama lo, Ra” kata Audi, sebelum dia berjalan pergi mengikuti Rengga.

Entah kenapa, hatiku rasanya remuk mendengar Audi mengatakannya.



*

Setelah seminggu jadian, aku dan Andra putus. Aku nggak tahan lagi. Selama bersama Andra, yang ada di pikiranku tetap Audi. Mengingat tatapan kecewanya saat pensi membuatku makin nggak bisa berhenti memikirkannya. Jadi kubilang pada Andra kalau kami harus putus, aku nggak bisa terus dengannya sementara hatiku masih untuk orang lain. Untungnya Andra menghargai keputusanku. Dia bilang, memang lebih baik kalau aku jujur dari sekarang.

Selama beberapa hari ini, aku juga nggak melihat Audi di sekolah. Di seperti ‘menghilang’. Bahkan ketika aku sengaja lewat ke kelasnya, dia juga nggak ada. Nggak biasanya dia bolos sekolah selama ini. Awalnya aku malu untuk bertanya pada teman sekelasnya atau datang ke rumahnya untuk menanyakan kemana dia pergi. Tapi hari ini, aku memberanikan diri untuk bertanya pada Joshua, teman sebangku Audi.

“dia kan lagi izin. Lo nggak dikasih tahu? Lo kan ceweknya?” Joshua bingung.

“dia nggak bilang apa-apa” aku menggeleng. Aku dan Audi terkahir bertemu saat pensi. Itu pun dengan cara ‘nggak baik-baik’

“di suratnya ditulis mau ada acara keluarga, tapi sebenernya dia mendaki. Gila juga itu anak! Lagi hari sekolah gini dia malah ke gunung. Sendirian lagi”

“sendirian?!” mataku membulat.

Joshua mengangguk. “iya, mentang-mentang udah sering mendaki, dia nekat pergi sendirian” Audi memang sangat suka mendaki gunung. Dia bahkan pernah jadi ketua ekskul pecinta alam di sekolah.

“efek patah hati kali, ya”

“patah hati?”

“kayaknya sih gitu. Waktu abis pensi dia keliatan galau banget. Diem, nggak semangat, lihatin handphone terus. Pas gue tanya, dia nggak jawab apa-apa. Kalian lagi berantem ya? Atau lo putusin dia?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaan Joshua. Aku hanya berusaha menahan diri agar nggak menangis didepannya.

*

Pulang sekolah, aku datang ke rumah Audi. Kata Joshua, kalau sesuai perkiraan, Audi sudah pulang dari mendaki hari ini.

Ternyata benar, mamanya Audi bilang kalau anak tunggalnya itu sudah pulang mendaki dari kemarin. beliau dengan ramah mempersilahkanku masuk ke kamar Audi. Dengan ragu, aku mengetuk pintu lalu masuk ke kamarnya.

Akhirnya aku bisa melihatnya lagi. Seperti biasa, dia mengenakan jersey Liverpool favoritnya, duduk diatas karpet sambil menonton TV. Tapi kali ini, aku tahu pandangan matanya kosong. “Audi?”

Audi mendongak. “Aura? Lo ngapain kesini?”

Aku duduk di sampingnya. “pengen ketemu lo aja. Kangen”

“udah lah, lo cepetan pulang. Nanti cowok lo marah” jawab Audi, cuek. Tapi aku bisa merasakan cemburu dari nada bicaranya.

“gue nggak punya cowok. Udah putus”

“bagus lah” Audi mengambil remote TV lalu memindahan channelnya ke channel khusus olahraga. Dia memusatkan perhatiannya pada TV, berusaha nggak mempedulikanku.

“tangan lo kenapa?” tanyaku, melihat lengan kanannya dibalut perban.

“jatuh waktu mendaki”

“makanya hati-hati. Kalau lagi mendaki harus fokus” aku mengelus lengannya.

“arhh! Sakit, Ra” Audi mengerang kesakitan. “gimana gue bisa fokus, kalau di kepala gue isinya lo doang?”

Aku terkesiap. “Di… lo…”

“lo pikir gue nggak patah hati waktu lihat lo jalan sama Andra? Gue sampai nggak pengen ke sekolah karena gue nggak tahan lihat lo sama Andra. Gue sampai harus mendaki supaya bisa lupa sama lo. Tapi tetep aja, yang ada di pikiran gue lo lagi, lo lagi” 

Dia lalu menatap mataku dalam-dalam. “lo nggak akan ngerti, Ra. Gue sayang sama lo. Sumpah, gue sayang banget sama lo! Cuma lo yang gue butuhin. Gue nggak nembak lo, bukan karena gue mau main-main sama lo atau cewek-cewek lain, tapi karena gue nggak bisa ngungkapinnya. Tiap lihat mata lo, gue suka bingung gimana caranya minta lo jadi cewek gue. Makanya gue cuma ngungkapinnya lewat tindakan, gue pikir lo bakal ngerti”

“terus… soal Lulu?”

“waktu itu gue pergi buat beli perlengkapan properti pensi sama Lulu. Dia yang maksa gandeng gue, gue sebenernya nggak suka digituin. Gue cuma suka kalau lo yang gandeng tangan gue. kalau lo pikir gue perlakuin Lulu sama kayak gue perlakuin lo, itu salah banget. Cuma lo yang gue peluk, yang gue cium, yang gue ajak ke rumah, yang gue kenalin ke nyokap, yang gue telepon tiap malem, yang selalu gue bawain martabak keju kalau lagi sakit, yang selalu mau gue lihat dan perhatiin tiap hari. Cuma lo, nggak ada yang lain”

Aku tersentuh dan baru menyadari semua. Tanpa mengatakannya, Audi sudah menunjukkan betapa sayangnya dia padaku setiap hari. “maaf ya, Di. Gue udah bikin lo patah hati. Gue sebenernya sayang banget sama lo. Gue jadian sama Andra cuma buat manas-manasin lo doang” aku memeluk Audi. Rasanya tenang sekali.

Audi tersenyum, lalu melingkarkan lengannya di pinggangku. Mendekapku erat. “Gila! Gue kangen banget sama lo!”

Setelah itu, dia mengecup bibirku dengan lembut. Tapi saat akan mengecupku untuk kedua kalinya, aku menghindar lalu melepaskan pelukanku.

“kenapa?” tanya Audi, bingung.

“tembak gue dulu, baru boleh cium lagi” aku tertawa kecil.

Audi menggenggam tanganku dengan erat. “jadi pacar gue ya, mau?”

“kurang romantis!” aku menggeleng.

“gue nggak bisa romantis”

Aku pura-pura ngambek. “kalau nggak romantis, gue nggak mau!”

Audi akhirnya mengambil gitarnya lalu menyanyikan need you now-nya lady antebellum, lagu favoritku. Audi memang punya suara yang merdu, tapi selalu malas kalau disuruh bernyanyi.



It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now.

Said I wouldn’t call but I’ve lost control and I need you now.

And I don’t how I can do without.

I just need you now.



“Aura Andania Praditha, gue sayang banget sama lo. Gue boleh jadi pacar lo?”

Aku langsung mengangguk sambil mengelus pipinya. “I love you, Audi Reza Randitio”

“I love you too” Audi tersenyum. “boleh cium lagi?”

“nggak boleh” aku meleletkan lidah.

“kan udah jadian?”

“maunya dipeluk aja” kataku, manja.

Audi langsung memelukku erat. Detik ini juga, aku semakin sadar kalau aku sangat membutuhkannya, aku nggak mau jauh-jauh lagi darinya.

THE END.

Sep 2, 2015

hai! hai!

hai! udah lama banget rasanya nggak ngeblog lagi. sibuk ujian nasional, test ini itu buat kuliah (dan belum ada yang berhasil :( huft..) dan berbagai kendala lainnya yang membuat nulis di blog nggak jadi prioritas lagi.
mumpung sekarang lagi nganggur, gue jadi punya banyak waktu buat ngeblog lagi. entah nulis cerpen, nge-review novel, ngasih playlist lagu yang lagi hip, atau apapun deh. yang pasti gue kangen nulis banget. gue bakal berusaha menyajikan bacaan yang baik buat para pembaca blog gue (yang sebenernya jumlahnya nggak seberapa)
ya udah deh, segini aja. udah lama nggak ngeblog lagi jadi bingung mau nulis apa he-he


salam,
indira :)

Jul 9, 2015

cerpen: jo to the mblo

jo to the mblo

“aduh.. aduh.. aduh..!!”
“aduh, aduh, apaan sih? Kayak cewek banget lo!” Bara kesal sendiri melihat gue yang mondar-mandir kayak setrikaan sambil menepuk-nepuk jidat. “kenapa sih, lo? Mau dapet?”
“geblek lo! Bukan, lah. Gara-gara ini nih!” gue memberikan selembar undangan reuni SMA yang baru gue dapat tadi pagi. Selembar undangan yang bikin gue galau sejak tadi.
“oh, anak-anak angkatan kita mau bikin reunian? Emangnya kenapa? Dateng aja kali, seru juga kayaknya” Bara menjawab santai, lalu kembali ke aktivitas main PS3nya.
“ah, lo kayak gak tahu aja anak-anak angkatan kita kayak gimana” gue melengos. “Kalau sampai tahun ini gue dateng ke reuni tanpa bawa pacar atau gebetan lagi, gue bakal dijulukin ‘jomblo of the year’ lagi. Lo pikir predikat itu gak malu-maluin? Mana diumumin di atas panggung lagi”
Mendengar keluh kesah gue, si geblek Bara malah ketawa cekikikan. “temen lagi susah, malah diketawain!”
“abisnya, lo juga sih. Salahnya itu bukan di mereka, tapi di lo. Dari SMA sampai sekarang udah mau lulus kuliah, masih aja jadi jomblo. Makanya, ikutin saran gue dari dulu. CARI PACAR, JO!!”
Ya, ya si Bara memang bener. Nggak salah kalau temen-temen gue di SMA ngasih gue predikat terhormat ‘jomblo of the year’ selama 5 tahun berturut-turut. Sejak gue masih kelas 1 SMA sampai gue kuliah kayak sekarang ini. Karena selama itu, gue memang gak punya pacar.
Oh ya, kenalin gue Jovi, panggil Jo aja. Mahasiswa semester 5 dan masih jomblo tulen. Bukan, gue jomblo bukan karena belum mau cari pacar, tapi karena gue masih ada dibawah standar cowok yang enak dipacarin. Jadinya, gak ada yang mau sama gue.
“kayak gue dong. Pacaran sama Ghina, jelas, punya tujuan. Nah, lo? Jomblo, kesepian, malam minggu gini bukannya ngedate sama cewek, malah main ke rumah gue” Bara membanggakan statusnya yang udah punya pacar.
“lah? terus, kenapa sekarang lo gak jalan sama Ghina? Malah nemenin gue malem mingguan kayak gini”
“biasa lah, lagi berantem. Si Ghina lagi ngambek, gara-gara gue lupa tanggal jadian kita berdua. Dasar cewek! Gitu doang langsung ngambek. Pusing gue..” Bara jadi curhat.
“berarti enakan jadi gue dong, jomblo. Free, bahagia, tanpa beban, no woman no cry. Daripada lo, taken tapi pusing terus mikirin cewek yang moodnya labil” gue jadi bangga sama status jomblo gue.
“ya udah, lah. mending ikut gue main PS. Soal reuni kita pikirin nanti” gue duduk disamping Bara dan ikut main PS.
*
Reunian SMA tinggal 2 minggu lagi. Ini gak bisa dibiarin, gue harus ambil tindakan. Gue harus mempertahankan nama baik gue di depan temen-temen SMA, malu-maluin banget kalau sampai gue dapet predikat jomblo of the year buat ke 6 kalinya. Pokoknya dalam 2 minggu ini, gue harus bisa dapet pacar atau ‘seenggaknya’ gebetan buat gue bawa ke acara reuni nanti.
Dan, gue tahu ke siapa gue harus minta bantuan. Bara..
Gue menekan bel yang ditempel di samping pintu rumah Bara. Sepi. Kayaknya lagi pada keluar. Tapi akhirnya pintu terbuka juga.
“loh? Kok lo yang bukain pintu, Ghin? Lo ngapain disini?” tanya gue, kaget. Ngeliat Ghina yang bukain pintu.
“gue kan ceweknya Bara, ya gue lagi main ke rumahnya. Gue yang harusnya nanya, lo ngapain malam minggu gini ke rumahnya Bara? Mau ngapelin Bara?” Ghina balik bertanya.
“idih! ya enggak lah, ngapain gue ngapelin cowok lo?! Gue kesini karena ada perlu sama si Bara. Dia ada kan?”
“ada kok, lagi masak mie instan di dapur. Masuk.. masuk..”
*
            “lo bisa gak, sih? Tiap malam minggu gak usah ke rumah gue terus? Ngilang kemana kek, jangan ke rumah gue mulu” keluh Bara. Memang iya sih, hampir setiap malam mingguan dalam hidup gue, gue abisin dengan main ke rumah Bara, sekalipun Bara gak ada di rumah. Biasanya gue ngobrolin bola sama bapaknya atau main PS sama adeknya Bara yang masih ABG.
 “lo gak kasian, Bar? Cewek cakep gini bukannya diajak candle light dinner malah dikasih makan mie instan” kata gue saat melihat mie instan yang terhidang di atas meja.
“ini namanya ngedate hemat. Di rumah, makan mie instan sambil nonton DVD” Bara ngeles, padahal ketahuan banget kalau dia lagi nggak punya duit. “karena ada lo, sekarang namanya bukan ngedate lagi. Padahal niatnya udah mau berduaan sama Ghina doang”
“justru bagus gue kesini, buat menghindari hal-hal yang gak diinginkan. Dirumah lo kan lagi gak ada siapa-siapa” gue membela diri. “Emang kalau Cuma berdua lo mau ngapain? Nah, gue tahu nih, pasti lo udah mikir jorok, ya? Hati-hati, Ghin. Entar lo diapa-apain”
“hah? jadi kamu ngajak aku kesini buat….” Ghina bergeser jauh dari Bara. Takut beneran.
“gak gitu, sayang. Aku gak ada niat kayak gitu” Bara jadi salah tingkah. “lo apaan sih? Malah nakut-nakutin. Jadi tujuan lo ke rumah gue mau ngapain? Mau nakut-nakutin Ghina doang? atau mau ikut makan mie instan?”
“jadi gini nih, ini soal reuni SMA yang tinggal 2 minggu lagi” gue mulai serius. “ gue mau minta tolong sama lo buat dikenalin sama cewek-cewek buat gue jadiin pacar atau gebetan, lah. supaya gue gak malu-maluin banget pas di reunian. Seenggaknya gue bawa cewek, gak jomblo”
“nyari cewek itu gampang. Lo ke mall aja, pilih satu, ajak kenalan, deh” jawab Bara santai. “lagian, lo ngapain minta nyariin cewek ke gue? Emangnya gue makelar gebetan?”
“gampang buat lo! Lo kan ganteng, cewek-cewek gampang nempel sama lo. Kalau gue? Wajah standar, pake kacamata lagi. Cupu banget” keluh gue. “bantuin gue lah, Bar. Lo kan punya banyak temen cewek. Terus waktu SMA kan cewek lo ada 5, cantik semua lagi. Siapa tuh? Inge, Dinda, Sofie..” belum selesai gue ngomong, Bara langsung menutup mulut gue secara paksa pake tangannya.
“oh, jadi dulu pacar kamu banyak? Cantik-cantik semua?” ekspresi wajah Ghina langsung berubah.
“bukan… bukan pacar, itu temenan doang”  Bara makin salah tingkah. “Jo!! sekali lagi lo ngomongin gue, gue lempar lo pake sandal!”
“kalau mau nyari gebetan gue bisa bantu, Jo. Kebetulan temen-temen kuliah gue juga lagi banyak yang jomblo. Mau gue kenalin?” Ghina menawarkan.
“nah, akhirnya ketemu juga pencerahan. Gue mau banget, Ghin!! Kapan gue bisa ketemu temen lo?” gue antusias.
“gue tanya temen gue dulu, ya. Nanti gue kabarin lewat Bara”
“akhirnya… reuni nanti gue gak bakal dapet penghargaan jomblo of the year lagi”
“udah kan? Sekarang lo pulang, gih. Gue mau ngedate, berdua doang” kata Bara. Ini orang, ngasih solusi nggak, ngusir iya.
“eh, jangan deh. Jo disini aja,  jangan pulang. Aku jadi takut berduaan sama kamu disini” kata Ghina sambil mengancingkan cardigannya dan menatap Bara dengan wajah curiga.
Ngeliat wajah si Bara yang keki, gue Cuma bisa cengengesan.
*
Hari minggu ini hujan turun deras, rasanya jadi mager, males gerak. Saking malesnya, handphone yang abis batere juga belum gue charge. Jadi seharian ini gue gak beranjak kemana-mana, cuma tiduran di kamar sambil nonton TV.  Dan lagi asyik-asyiknya gini, si Juna, adek gue yang masih berumur 10 tahun malah ngetok-ngetok pintu kamar gue dengan brutal. Terpaksa gue suruh masuk.
“bang, itu ada telepon dari bang Bara”
“Bara nelpon? Ngapain?” gue keheranan. “bilang aja abang lagi pergi, lagi bertapa ke gunung, atau lagi apa gitu kek, pokoknya bilang aja abang lagi gak ada. Abang lagi mager, nih”
“kata bang Bara kalau aku disuruh bohong sama abang, aku jangan mau. Soalnya bang Bara mau ngomong penting”
Geblek memang si Bara.
“iya, abang kesana sekarang” gue melangkah menuju telepon rumah dengan malas-malasan.
“halo, Jo? Dimana lo? Handphone lo kok gak aktif? Gue teleponin dari tadi” sambar Bara saat gue baru mengatakan kata sesingkat ‘halo’.
“emang lo ngapain nelpon-nelpon gue? Kangen?” gue bertanya asal.
“geblek lo! Lo lupa apa pikun, sih? Sekarang kan lo mau ngedate sama temennya Ghina, si Rea. Jangan bilang lo beneran lupa terus belom siap-siap?” jawab Bara. Oh, iya. gue baru inget kalau hari minggu ini gue diajak ketemuan sama temen kuliahnya Ghina yang namanya Rea. Gara-gara handphone mati, reminder yang gue pasang jadi gak berfungsi.
“oh, iya gue lupa. Mana gue belum mandi lagi”
“arrgh.. lo gimana sih, Jo? Gue, Ghina sama Rea udah lumutan nunggu lo disini. Mana si Ghina juga lagi PMS, dari tadi marah-marah mulu. Pokoknya kalau lo mau nasib gue selamet, lo buruan kesini!!”
“iya, gue cepet-cepet kesana” gue langsung menutup telepon dan buru-buru ke kamar mandi.
*
            Gue janjian sama Ghina dan Bara di café di salah satu mall. Gue bakal dikenalin sama temen kuliahnya Ghina yang namanya Rea. Gue juga belum tahu penampakannnya si Rea ini kayak gimana. Apa si Rea ini cantik, jelek, mukanya rata, gak punya hidung, gue gak tahu. Jadi ini bisa dibilang blind date juga.
            Setelah mencari kesana kemari, gue akhirnya ketemu juga sama Bara, Ghina dan seorang cewek berambut sebahu yang… cantik banget! apa itu Rea? Gila! Oke banget doi!
            “lama banget datengnya!! Kita udah lumutan tahu, nungguin lo disini! nyebelin, bikin bête aja!” keluh Ghina. Kayaknya beneran lagi PMS.
            “ya elah, Ghin. lo sama banget sama cowok lo. Hobi banget bilang lumutan” gue menjawab asal.
            “oh ya, Re. kenalin, ini temen gue. Jo” Bara berusaha mencairkan suasana. “Jo, ini yang namanya Rea” gue dan Rea pun berkenalan. Dari suaranya yang lembut, kayaknya Rea ini tipe cewek yang feminim banget.
            “ya udah, kalau gitu kalian ngobrol aja berdua. Gue sama Bara mau jalan-jalan dulu” kata Ghina. “ayo, sayang” Ghina menggandeng tangan Bara.
            “yuk, kita tinggal dulu, ya. Yang betah ngobrolnya” tambah Bara.
            Bara beserta Ghina yang lagi PMS meninggalkan gue dan Rea berdua dalam satu meja. 10 menit pertama kita berdua masih diem-dieman. Bingung mau ngomongin apa.
            “kamu kuliah jurusan apa?” Rea akhirnya membuka obrolan.
            “desain grafis. Kalau lo?”
             “sama kayak Angghina, ngambil psikologi juga”
            “oh..”
            “kayaknya kamu udah lama temenan sama Angghina, ya? temen satu sekolahnya dulu?”
            “oh, bukan gitu. Jadi gue sama Bara, cowoknya Ghina udah temenan lama banget. sejak SD kita udah satu sekolah terus. Jadi karena Bara, gue sama Ghina deket juga. Tapi dulu gue sama Ghina gak satu sekolah”
            “oh, gitu” Rea tersenyum tipis. “oh ya, aku suka deh,  sama penampilan kamu. Pake kacamata, keliatannya pinter.” dipuji cewek secantik Rea rasanya bikin gue terbang-terbang.
            “masa sih? Gue jadi gak enak” gue malu-malu.
            “tapi serius, aku suka banget sama cowok yang pake kacamata. Soalnya ngingetin aku sama mantan pacar aku yang dulu. Aku masih sayang banget sama dia” what? mantan? Wah, kayaknya si Rea masih kena syndrome gagal move on.
            “mantan? Lo masih sayang sama dia? Kok bisa putus?” gue jadi kepo.
            “dia yang mutusin aku, dia bilang udah bosen sama aku. Tapi aku gak bisa terima gitu aja. Aku udah usaha, kok. Dateng ke rumahnya setiap hari, nelponin dia tiap tengah malem, selalu manggil dia sayang walaupun dia nggak pernah ngerespon. Dan kalau ada cewek yang deketin dia, aku gak segan-segan buat bikin perhitungan sama cewek-cewek genit itu. Hih..”
            Gue mulai menangkap ada yang gak beres dari si Rea. “terus?”
            “pacar aku itu marah, dia bilang aku psycho. Tapi kan aku lakuin ini karena aku sayang sama dia, bukan karena mau gangguin dia. Sekarang dia pindah ke Amrik, dia bilang dia pindah karena gak mau aku ganggu lagi. Tapi kalau ada kesempatan, aku pasti bakal nyusul dia ke Amrik. Biar dia tahu kalau cintaku buat dia besar banget. Tapi sekarang ini, aku lagi mau nyari pacar baru dulu” lanjut Rea sambil memainkan garpu dan pisau persis kayak di adegan film-film pembunuhan.
            Gue cuma bisa menelan ludah. Jangan-jangan.. gue bakal jadi korban dia berikutnya. Gue harus mengamankan diri. “eerr.. Re? gue harus cabut sekarang. Ada kuliah”
            “kuliah? ini kan hari minggu?”
            “ehh, ya ini mata kuliah khusus, adanya hari minggu doang”
*
            “gila banget temen lo! Kuliah di psikologi, tapi sendirinya psikopat! Kok yang gitu lo kenalin ke gue, sih?” gue langsung protes ke Ghina soal pertemuan sama Rea tadi siang. “gara-gara Rea gue jadi bête, badmood” sekarang gue jadi ketularan PMS kayak Ghina.
            “maaf, Jo. Gue juga gak terlalu akrab sama Rea. Jadi gue gak tahu kalau ternyata Rea kayak gitu” Ghina membela diri.
            “ya udah, lupain soal Rea yang udah jelas-jelas failed. Besok lo jadi gak, mau ketemuan sama Mely?” tanya Bara. Mely adalah kandidat calon gebetan gue yang kedua.
            “Mely, temen kuliahnya Ghina juga?” Bara dan Ghina mengangguk kompak. “ntar kalau kayak Rea lagi gimana?”
            “gak bakal, Mely ini mantannya banyak kok” Ghina meyakinkan.
            “oke deh, gue mau”
*
            Masih di café yang sama kayak kemarin, hari ini gue janjian lagi sama Ghina buat ketemu Mely. Bara yang masih ada kuliah gak bisa ikut. Untungnya kali ini gue gak lupa, jadi gue bisa dateng on time.
            “hai, gue Mely” tampangnya si Mely memang cantik, dandannya ala-ala ABG korea masa kini. tapi suaranya… kok gitu ya? Cempreng. Kayak knalpot bajaj. Tapi gak papa, lah. suara doang.
            “Jo” gue membalas uluran tangan Mely.
Dan setelah dikenalin, seperti biasa, Ghina cabut duluan. Tinggal gue dan Mely berdua.
“udah lama kenal sama Ghina?” Mely mengawali obrolan.
“lumayan, pokoknya sejak Bara deket sama Ghina” jawab gue singkat. “eh, lo udah kenal sama Bara, kan? Cowoknya Ghina?”
“kenal, kenal banget. Btw, mereka udah berapa lama jadian?”
“kalau gak salah sih, 1,5 tahun. Tapi deketnya udah lumayan lama. Emangnya kenapa?
“hhmm.. gak papa” jawab Mely. “sekarang Bara kuliah dimana sih? Jurusannya apa?”
Kok dia jadi nanya-nanyain Bara? Bukannya nanyain gue. “sama kayak gue, dia kuliah di UI. Ngambil teknik industri. Nah kalau gue…” belum selesai gue ngomong, Mely langsung memotong omongan gue.
“emang tipe ceweknya Bara kayak gimana, sih? Kok dia bisa milih Ghina? Ghina kan Cuma menang cantik sama pinter dikit doang. OMG, padahal ya, kalau dibanding Ghina, gue jauh lebih cantik keleus..” sambar Mely cepat, kayak petasan banting.
“lo kok nanyain Bara terus? Lo suka sama dia?”
“suka banget!! Gue tuh yah, udah tergila-gila banget sama Bara sejak SMP, menurut gue Bara itu satu-satunya cowok terganteng di SMP gue dulu. Sayangnya sekarang dia udah bawa bodyguard, si Ghina. Iuhh..”
“bentar, bentar. Kalau lo satu angkatan sama Ghina, berarti lo dulu adik kelasnya Bara?” tanya gue lagi. Mely mengangguk.
“Dari SD gue sama Bara selalu satu sekolah. Berarti, kalau lo adik kelasnya Bara, berarti lo juga adik kelas…” oh, sh*t! gue baru inget. Mely ini mirip banget sama adik kelas gue yang dulu ngejar-ngejar Bara. Apa adik kelas gue yang dulu itu memang Mely?
“OMG, gue baru inget!! Lo itu Jo, sobatnya Bara waktu SMP kan? Yang dulu item, kurus, dekil, cupu. Sekarang lo jadi rada cakepan. Gue sampai nggak sadar kalau lo itu Jo yang dulu hahaha..”  arrghh.. cewek petasan ini kampret juga. Malah ngata-ngatain gue lagi.
“kalau lo naksirnya sama Bara, kenapa lo mau diajak ketemuan sama gue?”
“soalnya gue kira Bara ikut kesini juga, ternyata enggak. Eh, iya lo harus tahu. Waktu Bara masih PDKTan sama Ghina, dia masih suka ngehubungin gue lewat Telepon, SMS, BBM. Kayaknya Bara sebenernya juga suka sama gue juga hihihi..” Sekarang si Mely jadi curcol, mana ketawa-ketawa sendiri lagi. Aneh.
So, Mely udah dipastikan failed juga.
*
“jadi gimana sama Mely tadi? Sukses, gak?” tanya Ghina. Malem ini Bara sama Ghina dateng ke rumah gue. Udah gak salah lagi, pasti buat nanyain soal ngedate gue sama Mely
“gagal lagi, gue gak cocok sama Mely” jawab gue, lesu.
“ah, lo gimana sih? Dikit-dikit bilang gak cocok. Kalau gitu terus nih, 5 tahun lagi lo bakalan jadi jomblo perak. Umur 25 masih belum pernah pacaran” Bara menasihati.
“gimana gue bisa cocok sama Mely? Si Mely aja sukanya sama lo. Dia itu tergila-gila banget sama lo” setelah gue ngomong, gue bisa ngeliat perubahan ekspresi di mukanya Ghina.
“kok.. kok bisa? Gue kan gak kenal sama Mely?” Bara keheranan.
“lo inget gak? Adek kelas kita waktu SMP yang dulu ngejar-ngejar lo? Yang roknya pendek banget, suka bawa catokan ke sekolah, terus suka manggil lo ayang?” tanya gue. Bara mengagguk. “nah, dia itu Mely”
“oh, man! Astaga, jadi Mely temennya Ghina itu Mely adek kelas kita?” Bara langsung shock. Gue mengangguk membenarkan kata-kata Bara.
 “yoi! oh, iya. si Mely tadi titip salam buat lo tuh. Terus dia nanya kenapa lo sekarang jarang telepon sama BBM dia lagi” gue menyampaikan pesannya Mely. Dan, gue baru inget kalau ternyata disebelah gue ada Ghina!! Wah, ini bakal jadi perang dunia ke 3 kayaknya.
“kamu kok gitu sih, sayang??!! Katanya gak kenal sama Mely, tapi suka teleponan sama BBMan!” Ghina mulai marah.
“gak gitu, sayang. Aku gak tahu kalau Mely temen kuliah kamu itu Mely temen aku juga” Bara salah tingkah.
“walaupun Mely itu bukan temen aku, bukan berarti kamu bisa selingkuh gitu, dong!! Jahat banget sih, kamu!!” Ghina mulai nangis.
“aku gak selingkuh… Cuma deket doang, dikit”
“sama aja!! Udah ah, aku mau pulang aja!!” Ghina berjalan ke pintu depan.
“ah, Jo. Lo pake ngomong gitu sih!!”
“sorry, gue gak sadar tadi ada Ghina” gue membela diri.
“Ghin.. tunggu!! Aku bisa jelasin” Bara mengejar Ghina keluar.
*
Gue mencoba memecahkan teka-teki kenapa gue jomblo terus lewat ngaca. Dan setelah gue ngaca, gue tahu jawabannya. Fisik. Walaupun wajah gue rada ganteng, tapi gue pendek, pake kacamata, dan kurang macho. “coba kalau gue seganteng si Bara”
“yoi, gue memang ganteng. Tampan, rupawan, dengan masa depan cerah hahaha..” buset! Ini kan suaranya si Bara. Kok dia bisa tahu gue lagi ngomongin dia?
Pas gue balik ke belakang, ternyata si Bara udah nongkrong di depan pintu kamar gue.
“kampret lo! Masuk kamar orang gak bilang-bilang!!” kata gue yang masih setengah kaget.
“lagian lo kenapa sih? Malem-malem gini, malah galau pengen punya wajah setampan gue” Bara membanggakan diri.  Dasar lelaki sombong.
“gue pusing abis. Besok reuni, tapi gue masih dalam status available alias Jomblo” gue mengacak-ngacak rambut asal.
“bukan Cuma lo doang, gue juga. Gue sekarang ada dalam status ‘terancam jomblo’ ” jawab Bara, santai.
“Belum baikkan sama si Ghina?”
Bara menggeleng. “gue udah nelpon, dateng ke rumahnya, tapi gak pernah di respon. Biarin dulu lah, dia lagi pengen sendiri kali. Gue gak mau maksain dia”
“lo sayang banget, sama Ghina?” tanya gue sambil menatap mata Bara. Sampai sini, gue dan Bara terlihat kayak pasangan kekasih di sinetron-sinetron. Geli banget..
“ya iyalah. Lo pikir buat apa gue 1,5 tahun sama dia? Gue serius sama Ghina”
“si Ghina kan orangnya moody, gampang bête, manja. Lo gak capek ngadepin dia?”
“Jo, Semua ada prosesnya. Cinta dan sayang itu gak bisa kita dapet secara instan, dan juga gak bisa kita hilangin secara instan juga. Gue kenal Ghina gak sehari dua hari, dan gue gak bisa gitu aja hilangin semua perasaan sayang gue, cuma karena sifat manja atau moodynya dia doang. percaya Jo, kalau lo udah sayang sama orang, lo gak bakal bisa ninggalin dia walaupun dia punya sifat yang gak lo suka” ujar Bara. Mendadak dia jadi bijak.
“jadi, kemarin itu gue salah, ya? gue berusaha nyari pacar dalam waktu seminggu. Padahal kan pacaran itu butuh cinta. Dan cinta gak bisa didapet secara instan”
“nah, itu lo pinter. Makanya, mulai dari sekarang lo gak usah mikirin status jomblo lo itu. Di waktu dan cara yang tepat, cinta bakal dateng, kok” tambah Bara. “dan kalaupun lo dapet predikat jomblo of the year lagi, kan ada gue yang nemenin. Kita kan sahabat sehidup semati”
“ah, lo memang sahabat gue banget, sob!”
*
Acara reuni SMA gue siang ini meriah banget. kayaknya semua undangan dateng ke acara ini. Gue dateng sendirian, karena Bara berangkat bareng Ghina. Ya, Bara tadi pagi cerita kalau kemarin, sepulangnya dia dari rumah gue, ternyata Ghina udah nungguin dia di rumahnya. Setelah ngomongin masalahnya sampai kelar, mereka akhirnya baikkan dan sekarang udah gandegan mesra lagi. Si Bara memang tukang PHP. Katanya sahabat sehidup semati, mau nemenin gue jadi jomblo, tahunya sekarang malah bawa ceweknya. Tapi, gue sebenernya seneng mereka berdua baikkan.
Semasa SMA gue memang gak begitu populer dan gak banyak temen, beda sama Bara yang temen-temennya udah kayak beras, banyak dan ada di mana-mana. Jadi, sementara yang lain sibuk bernostalgia tentang masa indah di SMA, gue memilih buat menyendiri di pojok deket gudang sekolah, daerah favorit gue waktu SMA.
“Jo, kan?” sapa seorang perempuan dengan suara lembutnya saat gue lagi bengong-bengong sendirian. Spontan, gue langsung menoleh. Wow! Cantik banget ini cewek. Tapi kayaknya gue kenal, ini mirip..
“Jena?” gue menyebutkan salah satu nama teman sekelas gue di SMA dulu. Jena yang gue kenal di masa SMA adalah perempuan teramah sedunia. Dia masih ramah, tapi dulu dia gak secantik ini.
“iya, gue Jena. Lo apa kabar? ” kata Jena sambil tersenyum. Senyum khasnya masih bisa gue inget. Dia belum banyak berubah ternyata.
“baik, gue baik. Lo kemana aja? Kayaknya gue baru liat lo di reuni sekarang ini. Tahun-tahun kemarin lo gak pernah ikutan?”
“sorry deh, gue kuliah di luar kota soalnya. Sibuk, jadi gak bisa balik kesini”
“oh, ngambil jurusan apa?”
“ambil hukum. Lo kuliah kan? Ngambil apa?”
“gue sih, desain grafis. Soalnya, ya lo tau kan, gue waktu SMA suka gambar sama desain-desain”
“iya, gue inget banget. Oh ya, lo udah gak bikin komik-komikan lagi? Padahal lo itu sebenernya punya bakat di bidang bikin komik, loh. Tapi sayangnya dulu lo ngegambar gak di tempat yang bener. Di buku tulis temen lah, di buku absen kelas lah, di tembok lah. sekali-kali gambar di tempat yang bener, kek hahaha..”
“iya, dulu gue ancur banget. buku punya guru sampai gue bikinin komik di halaman belakangnya hahaha..”
Gue dan Jena lanjut ngobrolin cerita-cerita kita semasa SMA dulu yang bikin kita berdua ngakak. Dan obrolan berlanjut sampai ke kehidupan kita yang sekarang. Gue ngerasa nyambung banget, gue ngerasa waktu berjalan cepat saat gue ngobrol sama Jena.. apa ini yang namanya…
“tau gak sih, Jo? Dulu, waktu SMA gue..suka banget sama lo” Jena tiba-tiba jadi serius.
“su..suka sama gue? Kok lo gak pernah ngomong?”
“ya, gue kan cewek, masa gue yang ngomong duluan? Sebenernya dari dulu gue udah ngasih kode-kode ke lo, lonya aja yang gak pernah sadar. Belajar mulu, sih. Jadi gak pernah mikirin cewek” Jena tersenyum.
Gue bertanya-tanya ke diri gue sendiri. Kemana aja gue, saat ada cewek sebaik Jena naksir gue? Mungkin, dulu gue terlalu sibuk belajar.
“Jen?”
“ya?”
“kalau sekarang, masih sama kayak yang dulu?”
“apanya?”
“perasaan lo. Lo masih suka sama gue?”
“emang kenapa?”
“kalau masih, lo bisa terima gue?
“jadi?”
“seseorang yang bisa lo sebut sayang, babe, honey, atau apapun yang lo mau”
“pacar?”
“iya, lo mau?”
Jena gak mengeluarkan kata-kata. Tapi dari anggapan dan senyumnya, gue bisa tahu kalau dia nerima gue. Gue langsung tersenyum dan menggenggam tangan Jena. Gue tahu perasaan ini bukan perasaan yang instan. Rasa ini sebenernya udah ada sejak dulu, Cuma gue gak pernah sadar.  Dan, mulai detik ini gue bisa pastiin, kalau gue gak bakal dapet predikat jomblo of the year lagi. Good bye Jomblo, I love you Jena.


Selesai.